Sabtu, 20 Juni 2009

SWA: Survei Gaji 2009: Masih Ada yang Hot



Survei Gaji 2009: Masih Ada yang Hot


Kamis, 28 Mei 2009
Oleh : Eva Martha Rahayu

Krisis tak menghalangi banyak perusahaan menaikkan gaji dan benefit karyawan dari level staf hingga CEO. Dari sejumlah sektor yang disurvei, sektor apa saja yang hot & yang loyo?

Mariawati Santoso, GRP hanya tersenyum ketika dikonfirmasi tentang tingginya kenaikan gaji karyawan perusahaannya di kala krisis ini. Raut wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan. “Memang, kami dikabari gajinya paling tinggi di antara perusahaan lain. Itu benar,” tutur VP Human Resources & Business Procurement Service PT Prudential Life Assurance (Prudential) ini. Namun, dia merahasiakan berapa persen nominal kenaikan gaji di perusahaan asuransi jiwa asal Inggris itu.

Salah satu kebijakan remunerasi Prudential, menurut Mariawati, memberlakukan secara net alias tidak ada potongan pajak. Sebab, pajak penghasilan itu ditanggung Prudential. “Kalau di perusahaan lain, kan beda,” ia menuturkan. Bisa ditebak, akhirnya banyak karyawan yang sudah keluar dari Prudential ingin balik lagi.

Mariawati mengungkapkan, krisis global tidak memengaruhi sistem penggajian dan perekrutan Prudential. Untuk rekrutmen, misalnya, perusahaan ini berpedoman pada target perusahaan yang telah ditetapkan. Lantaran kinerjanya bagus, hingga kini pihaknya masih terus mencari karyawan baru. Dan, Prudential memiliki strategi khusus agar karyawan happy. Selain didukung oleh 80% karyawan berusia di bawah 30 tahun dan dinamis, perusahaan itu juga mempunyai recognition committee, seperti kegiatan gala dinner, family day dan movie day.

Selain asuransi, sektor fast moving consumer goods (FMCG) pun kebal terhadap efek krisis dari sisi penggajian. Simak penegasan Heri Soesanto berikut ini. “Apa yang selama ini berjalan, tidak ada perubahan dibanding sebelum krisis,” Corporate Human Resources Division Head PT Mayora Indah Tbk. (Mayora) itu mengungkapkan. Malah, Heri menjelaskan, untuk karyawan lapisan bawah berada pada kategori normatif plus. Artinya, gaji mereka berada di atas ketentuan pemerintah.

Akan tetapi, tidak semua sektor kondisinya seperti itu. Bernadette Themas bisa memaklumi mengapa ada perusahaan yang mampu menaikkan gaji dan ada yang tidak di kala krisis. “Salary increment tidak hanya mengacu pada inflasi dan Gross Domestic Product, tapi juga kemampuan perusahaan,” ungkap Country General Manager BTI Consultants/Kelly Services ini.

Berdasarkan survei gaji per Mei 2009 yang dilakukan BTI Consultants, tiga sektor yang masih hot dengan tingkat kenaikan gaji lebih tinggi adalah asuransi (9%-13%), minyak & gas (8%-12%) dan FMCG (3%-11%). Diikuti sektor farmasi, logistik dan perkebunan yang masing-masing kenaikan gajinya 7%-10%. Kemudian, sektor perbankan dengan tingkat kenaikan 6%-10%, teknologi informasi (TI) 6,5%-9%, serta telekomunikasi 0-9%.

Mengacu hasil sigi gaji itu, cukup mengejutkan bahwa di sektor telekomunikasi ada perusahaan yang tidak menaikkan gaji alias kenaikannya 0%. Padahal, beberapa tahun belakangan terbilang tinggi dan industrinya boom. Mengapa? “Mereka benar-benar konservatif dalam menaikkan salary. Kalau dilihat beberapa tahun lalu, mereka cukup jorjoran dalam menaikkan gaji supaya tidak kehilangan talent. Tapi, sekarang mereka lebih smart, dengan memberikan retention bonus dan variable bonus,” papar Bernadette.

Ya, mayoritas perusahaan di Indonesia saat ini melakukan salary freeze increment dan hiring freeze. Alasannya macam-macam. Perusahaan telekomunikasi -- operator seluler dan vendor – umpamanya, menganggap bahwa sebelumnya mereka telah memberikan gaji dengan level yang tinggi di antara pemain sejenis. Bernadette menduga, bisa jadi kebijakan itu dari kantor pusatnya, terutama perusahaan global. Mereka beranggapan, daripada melakukan PHK, lebih baik menyelamatkan perusahaan dengan efisiensi dalam hal pembayaran gaji.

Di industri telekomunilasi, persaingan harga yang sengit di industri ini dan fakta bahwa semua pemain berlomba menawarkan harga termurah bisa jadi memperkecil kemampuan para pemainnya untuk meningkatkan gaji karyawan. Maklum, dengan keharusan menjual layanan yang murah, margin keuntungan yang mereka peroleh makin menipis.

Bila dilihat secara lebih detail per sektor, menurut kajian BTI Consultants, sektor migas memiliki standar gaji tertinggi. Di level CEO kisaran gajinya Rp 125-250 juta, benefit-nya, antara lain, tunjangan rumah, mobil, THR, opsi saham, bonus, klaim transpor, klaim ponsel, bonus prestasi, biaya pengobatan dan rumah sakit beserta keluarga, Jamsostek, dana pensiun, tunjangan liburan dan keanggotaan golf. Untuk wilayah-wilayah yang jauh, ditambah dengan tunjangan tiket pesawat, sekolah anak, hardship allowances dan settling allowances.

Untuk level di bawah CEO, sektor migas pun masih memimpin. Lihatlah jabatan direksi gajinya Rp 80-125 juta, manajer senior Rp 57-79 juta, manajer Rp 30-65 juta, manajer junior Rp 11-50 juta dan staf (officer) Rp 5-16 juta. Adapun benefit yang diterima level-level di bawah CEO itu nyaris sama.

Setelah migas, sektor telekomunikasi juga menonjol standar gaji dan benefit-nya. Di tingkat CEO, gajinya Rp 100-200 juta dengan benefit: mobil dan sopir, klaim bensin dan parkir, bonus retensi, opsi saham, bonus manajemen, keanggotaan klub, klaim ponsel, biaya pengobatan dan rumah sakit, asuransi. Sementara itu, gaji direktur Rp 60-100 juta, manajer senior Rp 36-60 juta, manajer Rp 30-50 juta, manajer junior Rp 16-30 juta dan staf Rp 5-16 juta.

Standar gaji sektor perbankan tak kalah dari telekomunikasi. CEO mengantongi gaji Rp 130-200 juta dengan benefit meliputi: program kepemilikan mobil, kredit rumah, personal loan, asuransi jiwa dan kesehatan, klaim transpor, tunjangan sopir, klaim ponsel, bonus level senior, pembagian keuntungan, keanggotaan eksekutif, bonus prestasi dan Jamsostek. Selanjutnya gaji direktur Rp 60-130 juta, manajer senior Rp 40-60 juta, manajer Rp 20-40 juta, manajer junior Rp 10-20 juta dan staf Rp 5-10 juta.

Sementara iu, di sektor perkebunan, gaji untuk level CEO Rp 107-164 juta. Direktur gajinya Rp 35-100 juta, manajer senior dan manajer Rp 12-30 juta, manajer junior Rp 6-10 juta dan staf Rp 3,6-8 juta. Lalu, di industri asuransi, gaji CEO Rp 100-150 juta, gaji direktur Rp 60-80 juta, manajer senior Rp 25-40 juta, manajer Rp 15-25 juta, manajer junior Rp 9-15 juta dan staf Rp 3-7 juta (gambaran gaji dan benefit sektor lain selengkapnya lihat Tabel).

Gaji untuk entry level atau management trainee di sektor migas juga tertinggi dibanding sektor lainnya. Untuk level ini, perusahaan migas bersedia memberikan gaji Rp 6-10 juta, diikuti sektor perbankan dan FMCG 3,5-6 juta, telekomunikasi Rp 3,5-5 juta, logistik Rp 2,5-4 juta dan perkebunan Rp 2,5-3,5 juta.

Bila kita cermati, sebenarnya dibandingkan negara-negara lain di Asia Pasifik, kenaikan gaji 2009 di Indonesia tidak terlalu jelek. Katakanlah di sektor FMCG, kisaran kenaikan gaji di Indonesia 3%-11%, sementara di Australia 3%-6%, Hong Kong 4%-7%, Malaysia 5-8%, dan Singapura 4%-5,5%. Sementara di Thailand dan India kenaikan gaji di sektor ini memang lebih tinggi, yakni masing-masing 10%-16% dan 10%-13%.

Untuk farmasi, kenaikan gaji di Indonesia 7%-10%. Angka itu tergolong lebih gede dibandingkan Australia dan Singapura (4%-6%), Malaysia (5%-8%). Sementara kenaikan gaji lebih besar lagi dicapai Thailand (9%-12%) dan India (12%-17%). Lalu, kenaikan gaji sektor TI di Indonesia 6%-9%. Angka itu lebih rendah dibandingkan India (12%-17%) dan Thailand (6%-10%). Akan tetapi, angka tersebut mengungguli Australia (3%-5%), Hong Kong (4%-6%), Malaysia (5%-8%), plus Singapura (4%-6%).

Sejatinya di mata head-hunter, gaji tinggi bukanlah target utama para pemburu kerja, khususnya eksekutif. “Biasanya faktor gaji ada di urutan kedua atau ketiga,” ujar Irham Dilmy, Mitra Pengelola Amrop Hever, tandas. Tentu saja ketika para eksekutif dibajak, otomatis gaji sudah meningkat minimal 30%. Namun, prioritas eksekutif melakukan moving adalah tingkat tantangan pekerjaan. Justru, para eksekutif bosan di lingkungan kerja yang mapan. Pertimbangan lain eksekutif pindah kerja: seberapa besar keterlibatan mereka dalam dunia bisnis internasional dan faktor keluarga.

Ke depan, selain sektor migas, telekomunikasi dan perbankan, masih ada beberapa sektor yang hot. M. Ali Akbar, konsultan karier dari JACC, menjelaskan, saat ini memang industri telekomunikasi bisa dikatakan sudah memasuki tahap maturity, dan posisi-posisi yang tadinya banyak dicari karena kehadiran pemain-pemain baru sekarang sudah terisi. Akan tetapi, banyaknya pemain baru yang kemudian menimbulkan situasi kompetisi yang tinggi pada tahap selanjutnya membuat beberapa posisi tertentu yang strategis menjadi banyak dilirik perusahaan di industri telekomunikasi, seperti penjualan dan pemasaran (manajer dan direktur), value added service (chief information officer, manajer dan engineer).

Sementara itu, untuk industri migas, Akbar menambahkan, para profesionalnya banyak dicari karena keahliannya yang spesifik, seperti reservoir engineer (insinyur untuk pembuatan dan pengelolaan sumur) yang gajinya bisa mencapai US$ 300-500/hari untuk orang lokal dan US$ 500-700/hari untuk ekspatriat. Lalu, senior civil structure engineer untuk offshore, sub-surface engineer (bertanggung jawab atas kegiatan engineering di bawah permukaan laut), dan offshore installation manager.

Irham menambahkan, tenaga tambang migas terkenal dengan keahliannya yang sangat teknis. Tidak semua orang mempunyai keahlian seperti mereka. Orang-orang semacam itulah yang banyak dicari perusahaan pertambangan di seluruh dunia. Di Qatar, misalnya, perusahaan tambang bisa menawarkan gaji empat kali lipat dibandingkan di Indonesia. Dengan kondisi seperti itu, mau tidak mau perusahaan tambang di Tanah Air juga harus menghargai mereka cukup tinggi.

Sektor TI, menurut Akbar, pun diperkirakan masih menjanjikan gaji yang bagus. “Terutama sektor TI yang support ke industri telekomunikasi,” ujarnya. Ia melihat, ada tren perusahaan TI asing yang memindahkan kantor pusatnya untuk Asia Pasifik ke Indonesia dengan alasan yang sangat realistis, yaitu bisnis telekomunikasi di Indonesia adalah salah satu yang paling menjanjikan di dunia karena ada 9 operator telekomunikasi yang memperebutkannya.

Sektor perkebunan yang saat ini sedang agresif, menurut Akbar, juga menawarkan gaji yang lumayan bagus untuk posisi-posisi tertentu. Misalnya, group estate manager gajinya dianggarkan US$ 7-10 ribu/bulan, general manager forestry US$ 15.000/bulan, dan direktur SDM bisa mencapai Rp 100 juta.

Junius Rumindei, Presdir PT JCI-Kimberley Executive Search International, menambahkan, konsultan keuangan korporat dan bisnis multimedia juga sektor yang menarik di masa depan. Alasannya, masih banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga ahli, terutama bidang rekayasa keuangan, merger & akuisisi. Ini disebabkan banyaknya perusahaan yang secara fundamental bagus, tapi jatuh nilai pasar atau sahamnya. “Selain akuisisi, juga banyak perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan, sehingga harus merestrukturisasi permodalan, jual perusahaan atau private placement. Alhasil, peran corporate finance advisors sangat diperlukan untuk memuluskan tujuan perusahaan-perusahaan itu,’ kata Junius.


Reportase: Eddy Dwinanto Iskandar, Herning Banirestu, Rias Andriati, Sigit A. Nugroho
Riset: Dian Solihati & Dumaria R.M.

URL : http://swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=9291

Tidak ada komentar: