Minggu, 16 Agustus 2009

Arvan Pradiansyah (SWA) #3: Giving > Getting

Giving > Getting
Kamis, 28 Mei 2009
Oleh : Arvan Pradiansyah

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah seminar bagi para guru di Jakarta, saya berjumpa penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Andrea dan saya menjadi pembicara dalam seminar yang dihadiri sekitar 1.500 guru tersebut. Dalam seminar tersebut saya membahas bahwa tujuan pendidikan sesungguhnya adalah untuk mencapai kebahagiaan (happiness). Hal ini langsung dikaitkan dengan film Laskar Pelangi yang memang bercerita mengenai indahnya dunia pendidikan. Salah satu poin penting yang saya tekankan kepada para guru yang hadir adalah ucapan Pak Harfan, seorang guru idola Laskar Pelangi yang mengatakan, “Hidup adalah untuk memberi. Apa yang kita berikan janganlah lebih sedikit daripada apa yang kita dapatkan.” Pernyataan ini senantiasa diulang-ulang oleh Pak Harfan, bahkan beberapa saat sebelum ia menghadap Sang Pencipta di ruang kerjanya yang teramat sederhana.

Pembaca yang budiman, memberi akan menghasilkan kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada mendapatkan. Kebahagiaan ketika mendapatkan sesuatu akan berlalu seiring dengan berlalunya sesuatu itu. Kebahagiaan mendapatkan uang akan berlalu seiring dengan habisnya uang tersebut dibelanjakan. Kebahagiaan karena dipromosikan atau mendapatkan kenaikan gaji hanya akan terasa di bulan pertama, tetapi akan menjadi sesuatu yang biasa di bulan-bulan berikutnya. Hal ini akan sangat berbeda dari kebahagiaan karena memberi. Kebahagiaan karena memberi akan bertahan lama dan abadi di dalam jiwa kita. Kebahagiaan tersebut memiliki dampak yang lebih luas terhadap spiritualitas kita.

Dari sudut pandang kebahagiaan, ada tiga jenis tindakan memberi. Pertama: Giving < Getting, apa yang kita berikan lebih sedikit daripada yang kita dapatkan. Inilah paradigma orang yang “menang” tanpa terlalu peduli apakah orang lain mengalami kemenangan atau tidak. Orang yang menganut paradigma ini meminimalkan kontribusinya tetapi memaksimalisasikan pendapatannya dan mengira dia untung. Padahal walaupun secara jangka pendek memang demikian, kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan (imbalance) pada orang lain. Dan karena orang lain juga mengharapkan keuntungan, kondisi ini akan membuat orang tersebut menghindari interaksi dengan kita di masa mendatang.

Kedua, Giving = Getting, apa yang kita berikan sama dengan apa yang kita terima. Ini adalah paradigma menang-menang. Inilah dasar bisnis. Agar bisnis bisa berjalan, kita harus yakin bahwa kita mendapatkan keuntungan. Namun agar bisnis berjalan langgeng, kita harus memastikan bahwa apa yang kita berikan sepadan dengan apa yang kita dapatkan, karena hanya cara inilah yang akan membuat orang senang dan mau berinteraksi lagi dengan Anda.

Ketiga, Giving > Getting, memberi lebih banyak daripada menerima. Inilah prinsip yang selalu dipesankan Pak Harfan dalam Laskar Pelangi. Kalau Anda ingin menciptakan kepuasan dan loyalitas yang sejati dari pelanggan, Anda harus memastikan bahwa apa yang Anda berikan jauh lebih besar daripada yang Anda dapatkan. Giving > Getting ini jauh di atas paradigma menang-menang yang bersifat transaksional. Giving > Getting menggunakan paradigma cinta yang bersifat transformasional.

Paradigma cinta jauh lebih berdaya dibandingkan dengan paradigma menang-menang yang semata-mata berdasarkan logika bisnis. Paradigma cinta berakar dari dalam hati dan cinta senantiasa melahirkan cinta. Namun, cinta hanya bisa tumbuh ketika Giving > Getting. Ketika kita lebih banyak memberi daripada menerima, orang yang menerima lebih banyak itu akan merasa berutang budi dan pasti akan berusaha mencapai keseimbangan dengan memberikan sesuatu lagi kepada kita.

Salah satu hukum alam terpenting di dunia ini adalah pertukaran sosial (social exchange). Inti hukum ini adalah bahwa tukar-menukar yang dilakukan orang bertujuan mencapai keseimbangan. Bila yang kita berikan lebih kecil dari apa yang kita dapatkan, orang yang berinteraksi dengan kita akan merasa rugi. Ini akan menurunkan tingkat kepercayaan orang tersebut dan membuat orang itu jera berinteraksi lagi dengan kita.

Bila apa yang kita berikan sama dengan apa yang kita dapatkan, bisnis dapat berlangsung, tetapi bisnis tersebut tidak akan menyisakan “utang” apa pun. Karena itu, pada hakikatnya proses tukar-menukar tersebut telah berhenti sampai disitu karena telah tercapai keseimbangan.

Namun bila apa yang kita berikan lebih besar daripada yang kita terima, akan tercipta sebuah ketidakseimbangan positif (positive imbalance). Ketidakseimbangan ini akan mendorong orang lain melanjutkan interaksi dengan kita dengan cara membalas pemberian kita dengan pemberian yang lebih besar. Positive imbalance ini menghasilkan sesuatu yang beyond business karena memunculkan ikatan emosional yang berarti terpautnya hati dengan hati. Hubungan yang tercipta di sini bukan lagi hubungan bisnis yang transaksional, melainkan hubungan dari hati ke hati yang transformasional. Ini dapat menciptakan lingkaran kebaikan yang tak berkesudahan. Karena, bukankah dalam cinta kita senantiasa menikmati setiap interaksi yang terjadi, bahkan merindukan interaksi berikutnya?

Contoh mengenai hal ini saya dapatkan dari pengalaman saya menjadi pemegang kartu kredit sebuah bank di Jakarta. Bank ini sering memberikan hadiah tak terduga kepada saya. Tentu saja, mereka telah melakukan kalkulasi bisnis terhadap hal ini, tetapi tak urung kejutan-kejutan kecil tersebut membuat saya merasa dihargai, diperhatikan dan diuntungkan. Bahkan beberapa kali ketika menggunakan kartu kredit tersebut untuk berbelanja, saya dibuat terkejut ketika kasir mengatakan bahwa saya mendapatkan barang tersebut dengan cuma-cuma. Hal ini tentu saja membuat saya enggan “pindah ke lain hati”. Saya yakin bahwa bank ini sudah memahami konsep Giving > Getting ini dan menerapkannya dalam pengelolaan bisnisnya.


URL : http://swa.co.id/swamajalah/pernik/details.php?cid=1&id=9253

0 komentar: