Minggu, 16 Agustus 2009

Arvan Pradiansyah (SWA): Mind & Happiness

Mind & Happiness
Kamis, 06 Agustus 2009
Oleh : Arvan Pradiansyah

Seorang lelaki, Dirga, sedang tenggelam dalam kesedihan dan tidak tahu harus berbuat apa. Anaknya sakit keras dan membutuhkan biaya berobat, tetapi ia sendiri sedang dalam kondisi sulit karena baru saja diberhentikan dari pekerjaannya. Tiba-tiba ia teringat akan sahabatnya, Avil. Ia yakin Avil pasti akan membantunya. Pikiran ini sangat menyenangkan hatinya, sampai suatu pikiran lain hinggap di benaknya, “Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa Avil akan membantumu?” Namun, pikiran yang baru datang itu segera dibantahnya. “Mengapa tidak?” katanya dengan sedikit bernafsu, “Sayalah yang dulu menolongnya mendapatkan pekerjaan. Saya jugalah yang membantunya mengatasi berbagai masalah yang pernah ia alami dengan atasannya dulu. Pastilah ia akan membantu saya dalam situasi sulit seperti ini.”

Pikiran seperti ini menenangkan hatinya, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Setelah makan malam, datang lagi pikiran yang lain, “Bagaimana seandainya ia menolak?” Namun, pikiran tersebut buru-buru dibantahnya, “Tidak mungkin, mengapa ia sampai menolak? Segala sesuatu yang dimilikinya adalah berkat jasa saya. Sayalah yang memperkenalkannya kepada istrinya yang cantik. Saya juga yang membantunya mencarikan tempat tinggal yang nyaman. Mana mungkin ia menolak meminjamkan uangnya kepada saya?”

Namun ketika malam semakin larut, Dirga tak dapat memejamkan mata karena pikiran lain datang lagi, “Tetapi andaikan saja ia menolak, apa yang bisa saya lakukan?” Pikiran ini sangat mengganggunya dan membuatnya marah. “Dasar tak tahu diri. Orang ini masih hidup karena jasa saya. Dulu saya pernah menyelamatkannya ketika ia mau tenggelam. Betapa tidak berterima kasihnya ia bila membiarkan saya dalam kondisi seperti ini!”

Berbagai pikiran terus menghujani benaknya. Akhirnya, ia bangkit dari tempat tidurnya pada pukul 12 malam, pergi ke rumah Avil dan mengetuk pintu rumahnya. Avil yang masih setengah tidur itu membuka pintu dan berkata dengan terkejut, “Dirga, ada apa! Mengapa datang kemari tengah malam begini?” Mendengar hal itu, Dirga menjadi sangat marah. Ia tak dapat menahan dirinya dan kemudian berteriak, “Akan kukatakan mengapa aku pergi ke sini pada tengah malam seperti ini. Kalau kau pikir aku mau minta bantuanmu, mau meminjam uangmu, engkau keliru. Saya tidak mau berurusan denganmu, istrimu atau keluargamu. Persetan dengan semua itu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Dirga berbalik dan pergi.

Para pembaca yang berbahagia, cerita di atas memberikan ilustrasi kepada kita mengenai betapa berbahayanya pikiran yang tidak dapat dikendalikan. Dirga adalah contoh orang yang sibuk dengan pikirannya sendiri, sedemikian sibuknya sampai ia lupa bahwa semua kejadian yang dibayangkannya sesungguhnya hanya terjadi di dalam pikirannya sendiri. Namun, apakah hanya Dirga yang melakukan hal ini? Bukankah kebanyakan dari kita juga mempunyai kecenderungan yang sama?
Sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita ditentukan oleh pikiran kita sendiri. Cobalah lihat hidup Anda sendiri. Bukankah semua yang terjadi pada diri Anda telah “terjadi” sebelumnya dalam pikiran Anda? Bukankah semua tindakan kita di dunia nyata merupakan manifestasi dari pikiran-pikiran yang tercipta di dunia mental? Bahkan, bukankah pakar psikologi Sigmund Freud sampai berani menyimpulkan bahwa pikiran adalah gladi resik dari tindakan?
Karena itu, bila kita menginginkan hidup yang sukses dan bahagia, kuncinya adalah dengan mengelola pikiran kita. Akan tetapi, hal ini tak semudah kedengarannya. Mengelola pikiran itu sulit, jauh lebih sulit daripada mengelola tindakan. Ada beberapa alasan mengapa hal ini sulit. Pertama, karena pikiran itu tak terlihat. Ini berbeda dari tindakan yang dapat diamati dan diukur. Pikiran bersifat abstrak dan berada di alam internal kita. Selama masih bersifat abstrak, selama itu pula kita sulit mengelolanya. Maka, saya senantiasa menganjurkan untuk senantiasa menuliskan pikiran-pikiran kita. Menuangkan pikiran dalam bentuk tertulis membuat yang abstrak menjadi konkret sehingga lebih mudah dikelola.

Kedua, kita tak dapat berhenti berpikir, apalagi ketika kita sedang menghadapi masalah. Bukankah dalam pikiran kita senantiasa terjadi dialog yang tak henti-hentinya? Bukankah dalam pikiran kita senantiasa terjadi pergulatan dan perdebatan yang berkepanjangan?

Karena kita tidak berhenti berpikir, kita perlu mewaspadai makanan-makanan yang masuk ke dalam pikiran kita setiap saat. Namun celakanya, penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan yang kita pikirkan adalah hal-hal yang negatif. Inilah yang benar-benar perlu kita sadari. Kalau kita sadar, kita bisa segera mengganti pikiran negatif tersebut dengan pikiran positif yang membahagiakan.

Ketiga, kita sering tak bisa membedakan antara realitas pikiran dan realitas yang sesungguhnya. Ini perlu benar-benar kita sadari. Bukankah dialog (baca: self talk) yang terjadi dalam diri kita seakan-akan telah menciptakan realitas itu sendiri? Dan karena pikiran kita lebih mudah terinfeksi pikiran-pikiran negatif, bukankah kepala kita lebih banyak dipenuhi berbagai prasangka, dugaan, teori yang sangat besar kemungkinannya untuk salah? Pikiran kita sering menciptakan cerita sendiri, serta mengarang sebuah skenario tentang apa yang sedang dan akan terjadi. Cerita-cerita yang sebenarnya hanya bersarang di pikiran inilah yang sering kita anggap sebagai realitas yang sesungguhnya. Inilah yang membuat kita menjadi resah, susah, gelisah dan tidak bahagia. Dan karena kita yakin akan kebenaran pikiran tersebut, hal itu pulalah yang akan terjadi dalam hidup kita.

Namun tunggu dulu, apakah ini berita buruk? Bukankah Anda dapat mengarang sebuah cerita yang positif dan indah mengenai apa yang sedang dan akan terjadi? Bukankah kita bahkan bisa beranggapan bahwa cerita indah yang kita ciptakan dalam pikiran kita adalah realitas yang sesungguhnya?

Bila demikian, bukankah kebahagiaan akan lebih sering kita temukan?

*) Penulis best seller The 7 Laws of Happiness.


Source: URL : http://swa.co.id/swamajalah/pernik/details.php?cid=1&id=9584


0 komentar: