Rabu, 14 Juli 2010

SWA: Gaji, Cerminan Kinerja Perusahaan

Gaji, Cerminan Kinerja Perusahaan

Posted By Harmanto Edi Djatmiko On July 5, 2010 @ 2:47 pm In Sajian Utama, Swa Majalah

Gaji, tunjangan dan fasilitas yang diterima para profesional dan karyawan seharusnya merupakan cerminan dari kinerja perusahaan dan industrinya.
“Buat saya, gaji bukan segala-galanya,” kata seorang profesional sebuah perusahaan telekomunikasi papan atas. Bukan cuma dia sebetulnya, yang bilang begitu. Praktis, semua profesional hebat (dari berbagai industri) yang dihubungi SWA berkata seperti itu ketika diminta komentarnya tentang gaji, tunjangan dan fasilitas yang mereka terima.
Jawaban itu, meski seragam dan terdengar klise, boleh jadi benar adanya. Minimal buat mereka. Yah… kalau gaji mereka sudah mencapai puluhan atau bahkan di atas seratus juta rupiah per bulan, rasanya keterlaluan kalau bilang masih kurang. Apalagi dalam konteks Indonesia, negeri dengan jutaan penganggur.
Namun, terlepas dari kondisi sosiologis negeri ini, para profesional bergaji tebal itu memang layak mendapatkan apa yang seharusnya mereka terima. Sebagai profesional, mereka telah mencurahkan sebagian besar waktu, pikiran, perasaan dan tenaga untuk memajukan perusahaan tempat mereka bekerja. Dengan kepiawaiannya memilih, serta menerapkan strategi dan kebijakan bisnis yang jitu, mereka berhasil membawa perusahaannya keluar sebagai pemenang di tengah sengitnya persaingan bisnis. Terlebih jika sepak terjang perusahaan yang mereka pimpin itu mampu memengaruhi kinerja industrinya hingga mampu bertarung – katakanlah – di pentas bisnis global. Jadi, gaji yang mereka terima sesungguhnya berbanding lurus dengan kinerja perusahaan. Gaji, dalam kata lain, merupakan refleksi kinerja perusahaan dan industrinya.
Sebaliknya, tidaklah etis jika seorang eksekutif ataupun karyawan terus ngotot minta kenaikan gaji tinggi, sementara kinerja perusahaan jeblok di pasar. Bagaimanapun, maju-mundurnya sebuah perusahaan tergantung pada individu-individu yang ada di dalamnya. Ditarik dalam skala yang lebih luas, menjadi tugas dan tanggung jawab jajaran eksekutif dan seluruh karyawan untuk membesarkan perusahaan tempat mereka bekerja. Lebih hebat lagi, kalau perusahaan tempat mereka bekerja mampu memperkokoh sektor industrinya.
Juga tidak pada tempatnya, jika karyawan apalagi pemimpin perusahaan, menuntut kenaikan gaji yang berlebihan manakala kondisi perekonomian dan bisnis lagi krisis. Kondisi krisis memang sering berpengaruh besar terhadap seluruh aspek kehidupan, misalnya harga kebutuhan hidup meroket sehingga memukul telak daya beli masyarakat. Karena itu, kenaikan gaji memang perlu, tetapi harus wajar. Sebab, kalau keuangan perusahaan sampai kacau balau, ini sama saja artinya bunuh diri bareng-bareng. Dalam kondisi demikian, manajemen dituntut kreatif menciptakan lingkungan dan iklim kerja yang tetap kondusif agar karyawan tetap happy bekerja di tengah kondisi yang sesulit apa pun.
Yang kita rindukan sekarang, tentulah, bagaimana agar kata-kata “Buat saya, gaji bukanlah segala-galanya” tidak hanya diucapkan oleh jajaran eksekutif perusahaan, melainkan juga meluncur dari mulut dan sanubari karyawan di segala tingkatan majamenen, sampai level pramukantor sekalipun. Kalau ini yang terjadi, Indonesia pasti cepat maju. Sebab, setiap orang hanya berpikir bagaimana terus berkarya dan memberikan yang terbaik. Agar mampu memberikan yang terbaik, seseorang pasti akan terus belajar serta mengasah keahlian dan keterampilannya. Bagi perusahaan, pengaruhnya pasti luar biasa. Bayangkanlah, jika setiap orang berlomba-lomba memberikan yang terbaik!
Sebuah kondisi yang sangat ideal, tentu saja. Buat Indonesia, mungkin masih sebatas utopia. Namun, selama masih di atas bumi, segala yang sulit bukan berarti tak mungkin. Bangsa Jepang dan Korea Selatan telah membuktikan. Para karyawan perusahaan (terlebih perusahaan kelas konglomerat) di kedua negara tersebut umumnya sangat bangga atas tempat kerja mereka. Kebanggaan itu akhirnya menumbuhkan sikap dan kebiasaan untuk selalu memberikan yang terbaik buat perusahaan. Hasilnya? Tak butuh waktu lama buat kedua negara ini hingga tampil menjadi kekuatan ekonomi dunia.
Nah, menjadi tugas para pemimpin korporasi Indonesia untuk selalu menumbuhkan rasa bangga dalam diri seluruh karyawannya. Menumbuhkan keyakinan bahwa perusahaan bukan sekadar tempat untuk mencari nafkah, melainkan tempat bagi setiap orang yang bernaung di dalamnya untuk berkarya dan mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaannya


Naik Gaji? Bersabarlah!

Posted By Eva Martha Rahayu On July 5, 2010 @ 5:54 pm In HEADLINE, Sajian Utama, Swa Majalah

Tahun ini kebanyakan perusahaan masih menahan diri untuk menaikkan gaji lantaran kondisi internal belum memungkinkan. Inilah gambaran sektor yang tetap perkasa dan meredup.
Apakah gaji Anda tahun ini naik? Jika “ya” jawabannya, Anda sungguh beruntung. Pasalnya, hasil survei gaji yang dilakukan BTI Consultans menyebutkan, tahun 20120 ini mayoritas perusahaan tidak menaikkan gaji karyawan. Hal ini dikarenakan performa perusahaan kurang oke akibat imbas krisis global 1,5 tahun lalu. Bisa ditebak, sejumlah perusahaan tidak memaksakan diri untuk menaikkan gaji, meskipun inflasi telah terjadi.
Menurut Irham Dilmy, perusahaan menahan kenaikan gaji dengan harapan tahun 2010 kondisi ekonomi jauh lebih baik. Faktanya, beberapa sektor industri masih tersendat, khususnya yang berbasis ekspor dan otomotif roda dua. Mitra Pengelola Amrop Indonesia itu berpendapat, pada kuartal pertama dan kedua tahun ini banyak target perusahaan, terutama industri manufaktur, yang tidak tercapai.
Sektor usaha yang tidak menaikkan gaji bersifat lintassektor. Berdasarkan sigi BTI Consultants, sektor usaha tersebut mulai dari bidang telekomunikasi, teknologi informasi (TI), farmasi, perbankan, asuransi, logistik, perkebunan, hingga fast moving consumer goods (FMCG). Hebatnya, sektor minyak & gas melaju sendirian sebagai primadona yang mampu dan berani menaikkan gaji.
Perusahaan yang beruntung karena bisa menaikkan gaji tahun ini, menurut Januar Tenrilenka, jumlahnya tidak besar. “Besaran kenaikan gajinya masih normal. Sedangkan jumlah perusahaan yang wait and see untuk menaikkan gaji tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu,” kata konsultan BTI Consultans itu.
Country Manager BTI Consultants Indonesia Bernadette R. Themas menambahkan, awalnya kenaikan gaji tahun 2010 sekitar 11%. Namun, akibat laju inflasi periode itu di Tanah Air mencapai 2,78%, rata-rata pertumbuhan gaji (salary increment) tergerus menjadi 6%-9% untuk semua sektor industri.
Perhitungan Bernadette dkk. tidak meleset. Pengalaman BII Maybank, umpamanya, bank itu per April 2010 telah menaikkan gaji rata-rata 9,25%. “Jumlah kenaikan itu cukup signifikan karena kenaikan tahun 2009 cuma 6,1%,” papar I Gusti Made Mantera, Direktur Human Capital & Corporate Communication BII Maybank. Prinsipnya, untuk mempertahankan karyawan berkualitas, tentu gajinya tidak boleh di bawah standar pasar.
Perusahaan asuransi bahkan berani menaikkan gaji lebih tinggi. “Gaji saya tahun ini naik 15%,” ujar direktur perusahaan asuransi swasta nasional yang enggan menyebutkan identitas dirinya. Yang jelas, gajinya Rp 80-125 juta/bulan plus benefit tunjangan rumah, mobil, pensiun, asuransi kecelakaan diri dan kesehatan.
Mengacu hasil survei BTI Consultans, ada tiga sektor yang kenaikan gajinya lebih tinggi. Ketiga sektor itu adalah asuransi (5%-15%), migas (8%-12%) dan perbankan (5%-12%). Kemudian diikuti sektor FMCG (6%-11%), perkebunan (7%-10%), TI (5%-10%), logistik (6%-9%), telekomunikasi (5%-9%) serta farmasi (6%-8%).
Meski perusahaan asuransi tertinggi persentase kenaikan gajinya, bila dilihat dari besaran gaji yang diterima, sektor migas yang paling menonjol. Lihatlah, gaji CEO Rp 125-250 juta plus benefit-nya, antara lain tunjangan rumah, opsi saham, mobil, bonus prestasi, tunjangan hari raya (THR), klaim transpor, klaim ponsel, biaya pengobatan dan rumah sakit (beserta keluarga), Jamsostek, dana pensiun, keanggotaan golf, plus tunjangan liburan. Untuk tugas jarak jauh masih ditambah dengan tunjangan tiket pesawat, anggaran sekolah anak, hardship allowances & settling allowances.
Untuk level di bawah CEO, lagi-lagi sektor migas masih terdepan. Simak saja, direktur bergaji Rp 80-125 juta, manajer senior Rp 60-80 juta, manajer Rp 30-65 juta, manajer junior Rp 15-50 juta dan staf (officer) Rp 5-20 juta. Benefit direktur dan manajer senior hampir sama dengan CEO. Namun, untuk jabatan manajer junior dan staf minus tunjangan rumah, tunjangan mobil, opsi saham dan keanggotaan golf.
Setelah migas, yang unggul dalam standar gaji dan benefit-nya adalah sektor perbankan. Di tingkat CEO, kisaran gajinya Rp 130-200 juta dengan benefit: tunjangan mobil, kredit rumah, pinjaman pribadi, asuransi jiwa dan kesehatan, tunjangan sopir, klaim transpor, klaim ponsel, bonus level senior, pembagian keuntungan, keanggotaan eksekutif, bonus prestasi dan Jamsostek.
Adapun gaji di bawah CEO, perbankan terpaut jauh dari sektor migas. Perhatikan saja, gaji direktur tercatat Rp 60-130 juta, manajer senior Rp 40-60 juta, manajer Rp 20-40 juta, manajer junior Rp 10-20 juta dan staf Rp 5-10 juta.
Berbeda dari sektor migas yang benefit-nya lumayan banyak untuk semua level, di industri perbankan, makin turun levelnya makin berkurang benefit yang diterima. Memang direktur menerima benefit mirip dengan CEO, tetapi posisi manajer senior ke bawah berkurang banyak. Misalnya, untuk staf tinggal tersisa benefit asuransi jiwa & kesehatan, tunjangan transpor, tunjangan ponsel, bonus prestasi dan Jamsostek.
Posisi ketiga gaji dan benefit tertinggi dicapai sektor telekomunikasi. Level CEO gajinya Rp 100-200 juta dengan benefit: tunjangan mobil dan sopir, klaim BBM plus parkir, bonus retensi, opsi saham, bonus manajemen, keanggotaan klub, klaim ponsel, pengobatan dan rawat inap, THR dan asuransi.
Sementara gaji di bawah CEO masih atraktif. Sebagai gambaran, direktur Rp 60-100 juta, manajer senior Rp 36-60 juta, manajer Rp 30-50 juta, manajer junior Rp 16-30 juta, staf Rp 5-16 juta (selengkapnya lihat Tabel Gaji dan Benefit per Sektor).
Paparan survei gaji BTI Consultans tidak jauh berbeda dari hasil sigi Tim Riset SWA. Standar gaji semua industri di tingkat CEO Rp 50-400 juta, direktur Rp 40-300 juta, general manager Rp 25-100 juta, manajer Rp 15-40 juta, supervisor Rp 5-18 juta dan staf Rp 1,5-5 juta.
Masih menurut survei SWA, kualifikasi hard skill yang dibutuhkan level manajer sampai CEO minimal pendidikan S-1, dan S-2 diutamakan. Sementara tingkat supervisor dan staf mensyaratkan setidaknya mengantongi ijazah D-3 dan diutamakan S-1.
Kualifikasi soft skill yang dibutuhkan level manajer ke atas adalah punya jiwa leadership, memiliki rekam jejak yang baik, jaringannya luas, jago negosiasi, serta pernah menjabat manajer puncak perusahaan lain yang seukuran. Sementara soft skill yang ditargetkan untuk level supervisor dan staf adalah punya kemampuan supervisi, memiliki pengetahuan teknis tentang pekerjaannya, punya semangat belajar, giat, berperilaku baik, berpengalaman memimpin dan bersemangat (lihat Tabel Standar Gaji Semua Industri dan Kualifikasi Jabatan 2010).
Kembali ke survei gaji 2010 BTI Consultans. Bagaimana gambaran gaji entry level di berbagai sektor industri? Nyaris sama dengan hasil sigi gaji 2009. Sektor migas tetap memimpin di urutan pertama dengan gaji terbesar, Rp 6-10 juta, disusul perbankan (Rp 3,5-6 juta), FMCG (Rp 3,5-6 juta), telekomunikasi (Rp 3,5-5 juta), logistik (Rp 2,5-4 juta) dan perkebunan (Rp 2,5-3,5 juta).
Sesungguhnya, gambaran gaji di Indonesia, dituturkan Bernadette, tidak terlalu buruk. Pascakrisis global, kondisi bisnis dan perekonomian di Indonesia, Cina dan Thailand lebih bagus daripada negara-negara lain di Asia Pasifik. Rata-rata pertumbuhan gaji di seluruh industri di negara-negara Asia Pasifik mencapai 6%-7% per tahun.
Nah, di sektor FMCG, misalnya, rata-rata kenaikan gaji Indonesia 6%-11%. Angka itu lebih tinggi dibandingkan Australia (4%-7%), Hong Kong (3%-6%), Cina (6%-8%), Jepang (2%-3%), Malaysia (5%-7%), Singapura (3%-4%), Filipina (7%-10%), Korea Selatan (5%-7%), Selandia Baru (3%-4,5%) dan Thailand (5%-7%. Hanya dengan India saja Indonesia kalah karena di negeri Bollywood itu kenaikan gaji FMCG sebesar 10%-16%.
Di sektor farmasi, Indonesia ada di atas 9 negara Asia Pasifik (kecuali India dan Cina). Rinciannya: Australia 4%-6%, Hong Kong 4%-7%, Cina 8%-9%, Jepang 2%-3%, Malaysia 5%-7%, Singapura 4%-5,5%%, Filipina 8%-11%, Kor-Sel 5,5%-7%, Selandia Baru 4%-5%, India 12%-17% dan Thailand 6%-7% (lihat Tabel Rata-rata Kenaikan Gaji Berbagai Sektor di Asia Pasifik).
Beberapa temuan menarik lainnya dari survei gaji ini: sejak awal 2010 proses rekrutmen naik tajam. Pada 2009 sebanyak 50% perusahaan menahan diri melakukan rekrutmen, sedangkan tahun ini 100% perusahaan merekrut karyawan baru. Ini disebabkan persaingan ketat menuntut perusahaan memperkuat sumber daya manusia. Selain itu, dulu posisi tinggi saja yang mengambil banyak eksekutif luar negeri, sedangkan kini fenomena itu kini terjadi di semua level. Termasuk, jabatan engineer, karena industri migas Indonesia mengalami gap talent.
Temuan unik lain dari survei gaji 2010 adalah Gen Y menjadi orang yang sulit bertahan dalam sebuah perusahaan karena ekspektasinya terlalu tinggi dan akses informasi lebih mudah, sehingga generasi ini lebih mobile. “Gen Y ini tidak melakukan sesuatu yang buruk. Mereka hanya berpikir lebih cepat, dinamis, dan berkembang lebih advance dan terkadang thinking out of the box,” ujar Bernadette. Ati Simatupang mengingatkan bahwa Gen Y yang suka pindah-pindah itu umurnya 25-30 tahun. “Gen Y yang usianya 36 tahun ke atas lebih stable,” ucap Direktur Pengelola Bo Le Associates itu.
Terlepas dari kajian survei gaji 2010, tahun depan salary increment diprediksi lebih baik seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dan bisnis. Beberapa sektor yang tahun ini bersinar diperkirakan pada 2011 masih kinclong, seperti migas, telekomunikasi dan keuangan (asuransi, perbankan, sekuritas). “Di perbankan, perpindahan kepemilikan bank-bank swasta nasional menjadi joint venture mendorong aksi bajak-membajak di sektor ini,” ujar Irham. Di telekomunikasi, jelasnya, masih oke, walaupun para operator seluler banyak yang mengalami penurunan pendapatan pada 2009. Sektor migas tetap kemilau mengingat skill di bidang ini kian langka dan harga minyak di pasaran dunia masih bagus.
Irham benar. Itulah sebabnya, PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) akan tetap menaikkan gaji untuk memotivasi karyawan lebih perform dan efisien. Maklum, jumlah pegawai Antam kian menyusut tiap tahun akibat meningkatnya jumlah karyawan yang pensiun, sementara rekrutmen baru tidak gampang menemukan yang sesuai dengan kualifikasi. “Biasanya yang kami naikkan adalah gaji variabel. Contoh, untuk bonus fixed adalah THR sebesar 1,5 kali gaji dan uang cuti tahunan hampir 1,3 kali gaji,” tutur Achmad Ardianto, Direktur SDM Antam. Selain itu, masih ada bonus peningkatan etos kerja 1,5 kali gaji dan insentif kinerja tahunan bisa sampai 9 kali gaji (tergantung kinerja individu dan perusahaan).
Perusahaan telekomunikasi semacam PT XL Axiata Tbk. juga rutin menaikkan gaji. Martakhir Derita, VP Pengembangan SDM XL, mengungkapkan, rata-rata kenaikan gaji XL 10%-15%, disesuaikan dengan prestasi. “Bila prestasinya bagus, kenaikan gaji bisa 20% per tahun,” ujar Martakhir. Kenaikan gaji ini tetap merujuk pada key performance indicator (KPI) setiap pegawai.
Sebaliknya, sektor apa saja yang redup tahun 2011? “Industri manufaktur tidak bergeliat terlalu banyak, mereka biasa saja jalannya,” Irham menegaskan. Sementara Bernadette menambahkan industri garmen. Alasannya, serbuan tekstil Cina mengancam dan kenaikan tarif dasar listrik pertengahan 2010 makin memberatkan produsen garmen.
Apa pun temuan survei gaji ini, baik sektor yang hot dan prospeknya bagus maupun sektor yang diramalkan meredup, bagi karyawan survei gaji sangat bermanfaat untuk mengetahui posisinya ada di mana. “Bagi saya, survei gaji dapat memotivasi para profesional untuk meningkatkan kinerja daan mencapai posisi karier yang didambakan,” kata Hendra Nagunta, Manajer Regional Shell Retail, Philipinas Shell Petroleum Corporation, dalam surat elektroniknya.
Jadi, Anda yang naik gaji, bersyukurlah. Yang belum? Bersabarlah!
Reportase: Ahmad Yasir Saputra, Herning Banirestu, Kristiana Anissa, Moh. Husni Mubarak, Rias Andriati dan Wini Angraeni
Riset: Sarah Ratna

Source:
http://swa.co.id/2010/07/naik-gaji-bersabarlah/

Tidak ada komentar: