Senin, 28 Juni 2010

Layanan Customer Service Mandiri Call Buruk Sekali

Saya adalah salah satu nasabah dan juga pemegang Kartu Kredit Visa Gold Mandiri (4137 1903 01XX XXXX), sejak Oktober 2009 dan sampai sekarang pelayanan untuk rekening Bank Mandiri serta untuk pemakaian Kartu Kredit Mandiri cukup baik, tetapi sekarang ini saya sangat dikecewakan dan ingin menyampaikan keluhan saya terhadap Management Bank Mandiri, karena dari Senin, 28 Juni 2010 Jam 05.32, saya mencoba menghubungi Mandiri Call melalui nomor 14000 dan setelah bisa tersambung dan mengikuti instruksi dari mesin menjawab yaitu pilihan 1 kemudian 0 serta 2, tetapi apa yang saya temukan hanya jawaban “Ma’af seluruh staff kami masih sibuk” dan kalau kejadiannya hanya sekali tidak masalah tetapi sampai selasa pagi (29 Juni 2010) sudah 14 kali saya menelpon melalui Nomor 14000 tetap jawaban sama, termasuk saya coba dengan memasukkan pilihan 1 kemudian 1 dan masukan 16 nomor kartu kredit dan jawaban yang saya terima “Nomor kartu yang anda masukkan salah” padahal saya yakin saya tidak salah karena saya menelpon menggunakan HP dan bukti pilihan saya masih ada tercatat dan penasaran saya coba sampai 2 kali dan setelah itu jawaban tetap sama dan beberapa saat kemudian seperti tersambung ke Staff Mandiri Call tetapi kembali muncul jawaban “Ma’af seluruh staff kami masih sibuk”, benar-benar buruk sekali pelayanan Mandiri Call ini untuk saat ini dan karena saya penasaran saya ulangi sampai Selasa pagi jam 09.32 , Dari Senin sore saya coba juga menghubungi ke Nomor 021-5299-7777, sejak jam 18.16, Senin 28 Juni 2010 sampai sekarang sudah 7 kali juga tetapi tetap dengan jawaban yang sama dan saya juga coba telpon dari nomor atau dari HP yang lain tetapi tetap hasilnya sama alias nihil.

Kesimpulan saya dengan total saya 21 Kali menghubungi Call Center Bank Mandiri baik nomor 14000 maupun 021-5299-7777, tetapi jawaban tetap sama “Ma’af seluruh staff kami masih sibuk” termasuk pada jam kerja biasa yaitu sejak jam 08.00 hari Selasa 29 Juni 2010. Parahnya lagi setiap menelpon setelah dijawah mesin penjawab pulsa sudah otomatis terpotong dan rata-rata setiap call butuh1.5 sampai 2 menit dan kalau dikonversikan ke rupiah lebih kurang 60 Ribu apalagi saya Interlokal dari luar kota. Saya tidak mempersoalkan pulsanya tetapi pelayanan atau Abandon Call dari Mandiri Call Center yang kalau yang saya temukan sekarang hampir 100% artinya semua Call tidak bisa dilayani dengan baik (PARAH SEKALI). Pertanyaan saya kenapa ini sampai terjadi dan kemana saja Supervisor dan Manager atau mungkin Management dari Mandiri Call Center dan Apakah system yang digunakan tidak bisa meng-capture hal ini. Saya tidak bisa membayangkan kalau ada nasabah yang sangat membutuhkan layanan dari Mandiri Call Center dan mencoba menelepon beberapa kali dengan hasil nihil. Hal ini benar-benar parah dan seharusnya hal ini tidak boleh terjadi apalagi untuk ukuran Bank Terbesar di Indonesia sekarang ini, Saya menulis surat pembaca ini hanya untuk menghimbau Management Bank Mandiri untuk segera memperbaiki hal ini sebab kalau tidak cepat atau lambat akan banyak customer-nya akan lari ke Bank lain, mungkin juga bisa dipertimbangkan komunikasi lewat SMS atau Website sehingga ada alternative dari customer untuk menghubungi Mandiri Call Center. Dan untuk Calon Nasabah Mandiri silakan Anda berfikir ulang untuk menjadi Nasabah Bank Mandiri, dan menurut menurut saya BNI atau BRI jauh lebih baik pelayanan Customer Services-nya untuk kategory Bank Plat Merah.


Salam

Ir. Masrizal
Taman Aster Blok F1/27 Cikarang Barat Bekasi
Phone: 087878125838
e-Mail: masrizal.umar@gmail.com
www.masrizal-gati.blogspot.com
Twitter: www.twitter.com/rizal2407


KOMPAS :
http://www1.kompas.com/suratpembaca/read/14536

http://suarapembaca.detik.com/read/2010/07/03/162738/1392327/283/layanan-customer-service-mandiri-call-center-buruk-sekali

Urang Sintuk Jadi Tukang Insinyur (Bagian Ketiga)






Urang Sintuk Jadi Tukang Insinyur
(Bagian Ketiga)
Oleh : Ir. Masrizal Umar
(Kupersembahkan buat kedua Anakku tercinta Nanda Muhammad Raihan Audityo dan Nindy Puti Emgy Maisra)

Sekolah di SMA Negeri 100 Jakarta
Alhamdulillah penulis bisa melanjutkan sekola lagi di SMAN 100 Jakarta yang terletak di daerah Cipinang Besar Selatan Jakarta Timur dan berjarak lebih kurang 400 Meter dari tempat tinggal kakak yang kedua Amrizali, SPd dimana tempat penulis tinggal selama sekolah di SMAN 100 Jakarta.
Penulis masuk di ke kelas 3 Fisika dan itu merupakan Angkatan pertama sekolah tersebut karena sekolah ini baru dibuka, pada hari pertama sekolah penulis diperkenalkan sebagai siswa yang berasal dari Padang. Ada cerita menarik juga yang ingin penulis ceritakan yaitu penulis dipanggil oleh wali kelas waktu itu yaitu Ibu Nurul dan beliau menanyakan keabsahan nilai di buku raport penulis yang rata-rata 8.8 dan Juara Umum di SMAN Lubuk Alung, akhirnya penulis hanya bilang dan penulis akan buktikan saja prestasi penulis di semester 5 nanti atau semester pertama penulis sekolah di SMA tersebut. Pada tahap awal memang agak susah juga untuk berbaur dengan teman-teman baru karena maklum penulis berasal dari kampung dan dialek Padangnya masih khas sekali, tetapi penulis bangga dengan entitas penulis dari Padang karena orang Padang atau orang minang terkenal pintar dagang dan banyak juga yang pintar buktinya tokoh sejarah dan tokoh nasional juga banyak berasal dari Minang, misalnya M.Hatta, M. Yamin, St Syahrir, dsb.
Pada masa-masa awal masa sekolah di SMA 100 Jakarta penulis juga merasakan persaingan di kelas mulai terasa dan hal ini memacu penulis untuk menjawab keraguan dari Ibu Wali kelas dan penulis buktikan pada saat ulangan Matematika hanya penulis yang berhasil mendapat nilai sempurna 100 demikian juga dengan Fisika kalau tidak salah penulis dapat nilai 95. Mulai saat ini teman-teman dikelas mulai lebih respek bahkan banyak juga yang mengajak belajar kelompok untuk mempersiapkan UMPTN atau ujian akhir kelas tiga. Singkat cerita pada semester pertama di kelas 3 SMS atau semester kelima penulis berhasil meraih rangkin pertama dan sekaligus Juara Umum di SMAN 100 Jakarta dan hal ini menjadikan penulis dilirik oleh sekolah untuk mengikuti lomba tingkat SMA yang melibatkan para siswa. Waktu itu penulis diikutkan Lomba Cerdas Cermat di TVRI dan waktu itu penulis terpilih jadi Juru bicara karena berdasarkan seleksi internal sekolah penulis yang cekatan (narsis dikit hi hi hi) menjawab pertanyaan dari guru sewaktu simulasi di tingkat sekolah, dan akhirnya penulis ikut babak penyisihan di TVRI dan hasilnya memang tidak terlalu bagus tapi paling tidak dari 3 sekolah yang ikut, sekolah penulis mendapat urutan kedua dan itupun hanya kalah pada saat babak terakhir karena ini menyangkut kecepatan dan kesiapan mental dan group kami hanya kalau 100 point atau kalau dalam satu pertanyaan pada Babak terakhir. Waktu lawan kami salah satunya kalau tidak salah adalah SMAN 72 Jakarta (penulis tidak terlalu ingat nama sekolahnya, yang jelas salah satu SMA di Jakarta) dan mereka yang berhak maju ke Babak selanjutnya.
Penulis juga ditunjuk mewakili sekolah untuk ikut lomba atau olimpiade Matematika untuk tingkat DKI Jakarta, dan untuk lomba pertama diadakan untuk tingkat Kotamadya Jakarta Timur, lomba ini dilakukan di SMA 54 Jakarta di daerah Jatinegara. Pada tahap ini penulis masuk peringkat ke 2, dan berhak mewakili Kodya Jakarta Timur untuk ikut tingkat Provinsi DKI yang waktu itu dilaksanakan di SMA 70 di Bulungan. Pada tahap ini penulis memang tidak termasuk rangking 3 besar untuk mewakili DKI Jakarta, tetapi paling tidak penulis bisa membuat SMAN 100 bangga karena sebagai sekolah baru mereka bisa mengirim wakil untuk itu seleksi tingkat DKI Jakarta atau untuk tingkat Jakarta Timur masuk dalam 3 besar padahal saat itu SMAN 12 Jakarta termasuk sekolah yang paling favorit saat itu.
Pada saat sekolah SMAN 100, Jakarta penulis juga giat ikut try out UMPTN atau STAN walaupun pada saat itu penulis tidak ikut bimbel karena mempertimbangkan biaya karena pada saat itu perekonomian orang tua lagi susah karena sejak pasar Jatinegara terbakar tempat jualan bagi orang tua penulis sangat terbatas sehingga secara ekonomi juga berdampak pada kemampuan Bapak untuk membiayai sekolah penulis. Tetapi penulis bersyukur Bapak tetap semangat untuk mendorong penulis untuk berhasil apalagi setelah penulis berhasil ikut masuk cerdas cermat di TVRI, Juara 2 Lomba Matematika tingkat Jakarta Timur. Penulis rajin mengikuti try out untuk menguji kemampuan penulis dalam mempersiapkan diri ikut UMPTN da seleksi PT lainnya. Penulis masih ingat waktu itu penulis beli buku judulnya kalau tidak salah “Mempersiapkan Diri Ikut UMPTN” terbitan penerbit Erlangga dan tebalnya lebih kurang 800 halaman dan warna merah dan berisikan Bank Soal UMPTN ,karena berisikan contoh-contoh soal dari Sipenmaru atau seleksi masuk perguruan tinggi dari tahun 70-an. Penulis mengakui buku ini sangat membantu untuk simulasi UMPTN maupun seleksi lainnya seperti STAN dan khusus untuk STAN penulis juga punya buku Bank Soal masuk STAN dari awal 80-an. Pada saat mengikuti try out UMPTN maupun STAN alhamdulillah penulis selalu lulus atau melewati nilai Passing Grade-nya pada saat itu.
Penulis bersyukur bisa sekolah di Jakarta karena penulis bisa mendapatkan informasi yang cukup lengkap bagaimana kiat-kiat mengikuti UMPTN atau seleksi masuk perguruan tinggi lainnya atau kedinasan lain-nya. Hal ini sangat membantu kepercayaan diri penulis dalam mengikuti seleksi sebenarnya sewaktu lulus SMA. Akhirnya penulis berhasil lulus di SMAN 100 Jakarta dengan nilai terbaik dan NEM tertinggi bahkan termasuk untuk Jakarta Timur termasuk 5 besar. Penulis akhirnya mengikuti pendaftaran UMPTN dan STAN, karena pada saat itu dua seleksi ini yang prioritas penulis ikuti karena untuk itu Beasiswa BPPT pada saat itu penulis sudah tidak bisa karena umur penulis lewat 2 bulan, hal ini bisa dimaklumi karena penulis istirahat sekolah selama 1 tahun. Penulis disamping itu juga berusaha ikut testing sekolah kedinasan lainya baik negeri maupun swasta kalau tidak salah waktu itu ada juga Politeknik Gajah Tunggal. Akhirnya setelah mengikuti semua seleksi itu baik UMPTN, STAN dan Gajah Tunggal, akhirnya yang keluar dulu hasil finalnya adalah STAN dan sudah tentu Jurusan Akuntansi (Sekolah Tinggi Akutansi Negara) yang merupakan salah satu pilihan favorit saat itu, karena seperti kita ketahui STAN adalah sekolah kedinasan Departemen Keuangan (sekarang Kementrian Keuangan) disamping itu ada juga Diploma Pajak, Bea Cukai, PBB dan Anggaran, tetapi STAN adalah jurusan paling favorit karena lulusannya bisa masuk ke Instansi mana saja di Depkeu terutama tentu BPKP, Pajak dan Bea Cukai. Akhirnya penulis dengan senang hati penulis memberitahu hasil ini kepada Bapak dan beliau mengingatkan kalau penulis memutuskan masuk STAN harus kuat dari godaan karena pada saat itu remunerasi orang Depkeu belum seperti sekarang tetapi kalau yang mau korup tentu hanya dalam hitungan bulan atau tahun sudah bisa menjadi orang kaya, sampai sekarang penulis ingat betul nasehat Bapak tersebut. Akhirnya penulis mulai mengikuti masa orientasi atau OSPEK STAN pada saat itu dilakukan di Kampus Baru daerah Jurang Mangu, Tangerang. Sementara kampus di Mulawarman dekat Blok M hanya untuk proses seleksi atau pendaftaran saja. Pada saat OSPEK penulis sudah mulai kost di sekitar kampus dan kalau tidak salah waktu itu lama masa OSPEKnya 2 minggu, tetapi penulis bersyukur karena penulis tidak mengikuti secara penuh karena penulis berhasil masuk dalam kelompok paduan suara yang akan tampil pada saat pelantikan dan malam inaugurasi di Jakarta Convention Center. Penulis lebih sering ikut latihan paduan suara daripada ikut rangkaian OSPEK. Pada saat itu OSPEK-nya termasuk berat dan penulis masih ingat rambut penulis dipotong awut-awutan oleh senior supaya kelihatan hancur dan akhirnya memang harus dibotakin. Singkat cerita pada minggu terakhir masa OSPEK di STAN, keluarlah pengumuman hasil UMPTN dan pada saat itu Alhamdulillah penulis lulus pada pilihan pertama yaitu Teknik Kimia ITB sementara pilihan kedua adalah Kimia Universitas Andalas. Penulis waktu itu sudah punya ancang-ancang kalau lulus hanya pilihan kedua maka penulis akan tetap melanjutkan kulias di STAN. Pada saat melihat hasil pengumuman tersebut kalau tidak salah hari Sabtu, penulis kebetulan juga mau pulang ke tempat kakak di Jakarta Timur dan ketemu Bapak dan akhirnya setelah diskusi dan mempertimbangkan cita-cita awal mau melanjutkan sekolah di ITB dan kwatir juga kalau di STAN tidak tahan godaan (seperti Gayus cs kali!) maka penulis memutuskan untuk memilih ITB sehingga pada hari Seninnya penulis harus mengurus pengambilan Ijazah asli di Kampus STAN di Mulawarman karena pada saat masuk STAN Ijazah asli di tahan oleh pihak kampus karena waktu itu adalah sekolah kedinasan dan tahun kedua sudah otomatis jadi CPNS. Singkat cerita akhirnya penulis dengan ditemani kakak yang paling tua Imuzar pergi ke Bandung untuk mendaftar di ITB.
Masa Kuliah di Bandung
Dengan naik Bis dari Cililitan (waktu itu terminal bis di Jaktim masih didaerah Cililitan atau area PGC Cililitan sekarang), dan bagi penulis itu adalah pengalaman pertama pergi ke Bandung karena sebelumnya belum pernah sama sekali. Waktu itu dengan semua persyaratan serta pakaian secukupnya maka penulis dengan kakak sampai di terminal di daerah Rajawali melanjutkan dengan naik Bis ke kampus ITB di daerah Dago. Waktu kami langsung ke kampus di Jalan Ganesha no 10 dan waktu itu proses pendaftaran dilaksanakan di Gedung GSG. Setelah selesai mendaftar penulis diajak kakak ke Cihampelas tepatnya ke Rumah Ande Rakiah yang kalau secara hubungan family beliau adalah “Bako” atau saudara ayah dari nenek penulis (Mak Uwo) tetapi karena hubungan silaturahmi mamak di Jakarta dan orang tua dikampung apalagi Paman (Mamak) penulis H. Razali waktu ikut pendidikan militer di Bandung juga sering singgah di Cihampelas itu. Ande Rakiah bagi orang kampung kami di Sintuk adalah tokoh masyarakat atau orang tuo di Bandung dan sekitarnya dan beliau ke Bandung juga mengikuti suami Alm. Romli Dt. Sinaro Basa yang juga seorang TNI (Paman dari Bapak Drs. Muslim Kasim. Akt, MM yang sekarang Bupati Kabupaten Padang Pariaman). Waktu itu kakak langsung menitipkan penulis sama Ande Rakiah dan beliau orangnya memang baik hati dan beliau juga senang penulis bisa masuk ITB karena hal ini adalah kali pertama orang Nagari Sintuk bisa masuk ITB. Penulis mengakui beliau orangnya sangat baik dan ikhlas untuk membantu saudara dan sesama dan sampai sekarang beliau masih sehat walapun usianya sudah lebih dari 80 tahun.
Minggu berikutnya selesai proses pendaftaran ulang mahasiswa baru, mulailah penulis mengikuti Penataran P4 100 Jam. Penulis masih ingat waktu pembukaan atau sidang terbuka penyambutan Mahasiswa baru ITB Angkatan 90 diisi salah satunya dengan ceramah dari Menparpostel Alm. Bpk. Soesilo Soedarman dan memang kami sebagai mahasiswa baru memang merasa bangga karena untuk penyambutan saja sudah dihadiri oleh seorang menteri. Setelah selesai mengikuit kegiatan penataran P4 lebih kurang 2 minggu maka selanjutnya kegiatan perkuliahan dimulai.
Pada tingkat pertama di ITB disebut dengan Tingkat persiapan bersama dimana pada saat ini mata pelajaran untuk setiap jurusan boleh dikatakan sama yang berbeda hanya 2 SKS yaitu pengantar jurusan masing-masing dan karena penulis adalah jururan Teknik Kimia sudah tentu ada mata pelajaran PTK atau Pengantar Teknik Kimia. Pada umumnya di ITB untuk tingkat S1 pada saat itu kalau tidak salah dibagi atas tiga tahapan yaitu Tingkat Persiapan Bersama, Tingkat Sarjana Muda dan Tingkat Sarjana atau kelulusan. Pada masing-masing tingkat akan ditentukan apakah masing-masing Mahasiswa bisa lanjut untuk tahapan selanjutnya, misalnya untuk TPB harus lulus dengan IP Minimal 2,0 dalam waktu maksimal 2 tahun, sementara tingkat SarMud halus selesai dalam waktu maksimal 5 tahun, normalnya bisa selesai dalam 3 tahun dan tingkat Sarjana maksimal harus selesai dalam waktu maksima 7.5 tahun dengan IP minimal 2.0. dan normalnya bisa selesai 4.5 tahun, dan menurut penulis memang wajar hal ini dibatasi karena kita tahu sekolah waktu itu secara umum disubsidi sama pemerintah sehingga semakin lama mahasiswa menyelesaikan kuliahnya berarti juga pemborosan bagi Negara. Pada tahun 1990 untuk SPP (Sumbangan Pembangunan Pendidikan) hanya Rp. 60 Ribu untuk 1 semester dan ini berlaku sampai tamat masa perkuliahan jadi menarik juga karena SPP termasuk biaya yang anti-inflasi.
Masa Kuliah di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) di ITB
Masa kuliah di tingkat TPB adalah masa yang sangat menentukan karena biasanya kalau memang ada mahasiswa yang masuk dengan (maaf) pakai joki pada saat itu akan ketahuan dari prestasi akademik-nya walaupun kadang-kadang tidak semua karena yang masuk pakai joki kadang-kadang termasuk anak pintar juga, cuma tidak percaya diri dan biasanya praktek perjokian ini banyak terjadi di daerah, kenapa penulis berani mengatakan hal ini karena sewaktu di TPB penulis pernah ditawarkan juga untuk menjadi Joki di salah satu daerah, tetapi waktu itu penulis menolak dengan tegas karena walaupun duit-nya cukup besar untuk ukuran saat itu yaitu rata-rata 15 Juta/mahasiswa dan biasanya tergantung juga dengan Jurusan yang diterima, dan arena penulis tahu resiko-nya adalah dipecat maka walaupun secara ekonomi penulis butuh tetapi dengan tegas penulis menolak dan logikanya kalau mau cepat kaya kenapa tidak tetap kuliah di STAN saja maka setelah lulus kalau mau korup hanya dalam hitungan 3-5 tahun sudah bisa jadi miliarder dan tentu saja dengan profesi PNS merangkap maling alias koruptor.
Pada saat TPB di ITB pada tahun itu juga dimulai mata pelajaran Olah Raga untuk tingkat TPB padahal pada Angkatan sebelumnya tidak ada dan biasanya mata pelajaran Olah Raga umumnya dilakukan pada hari sabtu dan Pelajaran olahraga ini biasanya langsung dengan mata pelajaran praktek terutama adalah lari atau yang melatih aerobic pada mahasiswa (Issue-nya waktu itu disamping membuat mahasiswanya sehat juga tidak telalu sering ikut demo he he he). Pada masa TPB, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan Unit Kegiatan Mahasiswa baik bidang seni dan budaya, olahraga, keagamaan, bahka Ilmu Sosial kemasyarakatan waktu itu yang terkenal adalah PSIK (Pusat Study Ilmu Kemasyarakatan) dan biasanya unit itu menghasilkan para aktivis kampus yang termasuk militant, koperasi, English club, serta waktu itu masih ada juga unit kegiatan militer bagi mahasiwa juga (maklum masih zaman Orba). Pada saat itu setiap mahasiswa disarankan untuk ikut minimal 2 pilihan yaitu satu bidang olah raga dan bidang seni budaya, dan hal ini biasanya menjadi syarat tidak resmi waktu masuk himpunan jurusan pada tingkat kedua. Waktu itu penulis memutuskan untuk ikut 2 kegiatan yaitu Unit Kesenian Minangkabau (UKM) dan Unit Volley Ball (UBV).
Pada saat kuliah di TPB penulis tinggal di Cihampelas dirumah Ande Rakiah yang sebelum sudah penulis sampaikan, yang kalau boleh penulis katakan penulis sangat beruntung tinggal sama beliau karena beliau orang sangat baik dan sudah penulis anggap sebagai orang tua sendiri, dan yang lebih penting lagi penulis tidak perlu repot dengan masalah makanan karena sudah disiapkan oleh Ande sehingga penulis hanya perlu untuk mencuci dan menyetrika pakaian sendiri dan itu bukan hal yang sulit karena sejak SMA sudah biasa penulis lakukan. Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan terima kasih dan hormat kepada Ande karena tanpa bantuan dan dukungan dari beliau penulis belum tentu bisa kuliah penulis bisa berhasil dengan baik. Penulis untuk rumah juga boleh dikatakan tinggal dengan gratis karena beliau marah kalau penulis memberi uang ke beliau dengan dalih uang kost kecuali penulis bilang ada titipan dari Bapak yang harus diterima dan itupun untuk ukuran saat itu jauh dari cukup jika dibandingkan penulis harus beli makanan diluar, jadi memang besar sekali jasa beliau terhadap penulis dan penulis senantiasa berdo’a semoga segala kebaikan beliau akan menjadi amalan beliau dan Alhamdulillah sampai sekarang beliau masih sehat-wal’afiat dan masih tinggal di Cihampelas walau kadang-kadang juga sering tinggal di kampung atau di Jakarta di tempat anak dan cucu-nya.
Ada yang menarik juga untuk Ospek di ITB, kalau boleh dikatakan untuk Ospek sebenarnya baru dimulai pada sebelum awal semester ketiga yaitu sewaktu mahasiswa akan melanjutkan kuliah di Jurusan masing-masing, pada tingkat satu atau TPB kalaupun ada yang disebut Ospek itu hanya untuk unit kegiatan dan biasanya prosesnya dilakukan pada saat pelantikan atau sebelum resmi diterima sebagai anggota unit biasanya diadakan satu malam sebelum proses pelantikan. Sementara Himpunan Jurusan (Himpunan Mahasiswa TK-ITB adalah HIMATEK) sewaktu kami TPB juga ada kegiatan yang disebut Pra-OS yaitu biasa kumpul sekali 2 bulan dengan pakaian olahraga dan biasanya kegiatannya adalah belajar baris-berbaris dan kegiatan fisik yang melatih kekompakan angkatan. Kebetulan waktu itu untuk Jurusan Teknik Kimia jumlah kami untuk satu angkatan relatif banyak yaitu 90 orang, walaupun tidak sampai 90 orang karena ada juga setelah 1 bulan mengundurkan diri karena lulus beasiswa dari BPPT atau Mabhuso Jepang, kalau tidak salah waktu itu ada 4 orang yang mengundurkan diri dan salah satunya sekarang yang menjadi salah satu tokoh politikus muda dan pengusaha muda sukses yaitu Dr. Poempida Hidayatullah (www.poempida.com) yang waktu itu dapat scholarship BPPT ke UK dan ada 3 rekan penulis lainnya.
Pada saat masuk Unit Kesenian Minang, penulis mulai banyak berinteraksi dengan rekan mahasiswa lainnya yang umumnya berasal dari Sumatera Barat, atau orang tuanya berasal dari Minangkabau walaupun mereka lahir dan besar di luar Sumatera Barat. Ada rekan-rekan penulis dari Payakumbuh misalnya Syofyan, ada dari Bukit Tinggi, misalnya Rory dan Siylvia, dari Solok misalnya Dedy Irawan, dan rekan dari Kota Padang seperti Mahzuri, Rony dan yang lainnya. Menarik memang di UKM penulis mulai ditantang oleh kakak-kakak senior untuk menjadi mahasiswa yang peduli dengan Sumatera Barat dan ditantang juga untuk menguasai seni budaya khas Minangkabau misalnya menari dan main musik serta budaya minang kabau dan biasanya waktu Orientasi UKM sekali sebulan ada kegiatan ceramah adat serta latihan menari dan main musik tiap minggunya. Karena penulis tidak terlalu bisa menari akhir penulis ikut belajar main musik Talempong, Gendang, dan Bansi, dan penulis masih ingat senior yang jago Gendang adalah Uda Deddy (FI 87), Panca (PL-89) dan Rildova (SI-88) sementara ada ada juga Rudy (MI-88), dan cukup menarik juga untuk saling berinteraksi dan belajar dan memperdalam budaya Minangkabau. Ada juga hal yang menarik ikut UKM adalah biasanya sekali atau dua kali dalam sebulan biasanya ada undangan untuk mengisi acara pernikahan Adat Minangkabau yang biasanya diundang oleh perantau minang yang ada di Bandung, dan biasanya UKM menampilkan atau mengisi Tari Pasambahan sebagai materi utama dan hiburan tari dan serta talempong show (alat musih seperti Gamelan tetapi biasanya dengan tempo dinamis). Menarik juga karena disamping kami dapat uang lelah yang biasanya untuk uang kas kegiatan unit dan bagi kami yang terpenting tentu media untuk unjuk kemampuan demi mengasah rasa percaya diri tampil di depan umum serta yang lebih penting adalah tentu waktu “perbaikan gizi” maklum para mahasiswa adalah perantau sehingga adanya kegiatan pesta tersebut cukup baik untuk bisa makan enak (he he he he).

Pada Semester Pertama pada TPB Alhamdulillah penulis bisa melewati dengan cukup baik bahkan dengan IP yang lebih dari 3.7 dan ini menambah kepercayaan diri bagi penulis bahwa ternyata anak kampung juga bisa kuliah di ITB dengan baik. Hasil semester pertama ini memang sangat berarti bagi penulis karena kalau gagal di TPB maka berarti harus keluar dengan tidak hormat alias di-DO. Hasil presatasi akademik ini juga menambah kepercayaan diri agar terus belajar serta menambah kepercayaan diri penulis untuk terus juga aktif di Unit Kegiatan yang masih dalam proses orientasi yaitu UKM ITB. Secara rutin setiap kegiatan yang dilakukan oleh Unit penulis termasuk calon anggota yang termasuk rajin terutama mengikuti kegiatan ceramah adapt dan latihan musik dan tari. Pada semester kedua TPB kegiatan Pra OS yang dilakukan oleh senior di Jurusan Teknik Kimia juga semakin sering meminta kami Angkatan 90 untuk mengikuti kegiatan Pra Os setiap minggu serta frekwensi dan intensitas latihannya juga makin meningkat atau boleh dikatankan makin keras.
Menarik memang masa orientasi mahasiswa baru untuk masuk jurusan maupun unit kegiatan mahasiswa penulis akui cukup membantu penulis menjadi lebih dewasa dan mengontrol emosi dan ini memang penulis rasakan setelah memasuki dunia kerja sekarang atau kembali ke tengah-tengah masyarakat. Bagi penulis hal yang positif penulis rasakan adalah kegiatan meningkatkan rasa kebersamaan kami sebagai satu angkatan terutama kalau bicara jurusan, sementara kalau kegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa menambah pergaulan dan silaturahmi dengan Mahasiswa lainnya khususnya yang berasal dari Sumatera Barat. Demikian juga halnya dengan Unit Kegiatan Volley Ball, penulis juga bisa kenal dan bersilaturahmi dengan teman mahasiswa lainnya yang suka atau punya hobby main bola volley. Akhirnya penulis bisa menyelesaikan TPB dengan sangat baik bahkan untuk ukuran Indeks Prestasi (IP) penulis bisa masuk dalam kelompok 5 besar walaupun waktu itu tidak ada istilah rangking seperti masa SMA. Sehinga penulis sudah bisa melewati satu fase masa kuliah yang menentukan yaitu Tahap Persiapan Bersama (TPB) dengan IP lebih dari 3.7 (Skala 4). (Bersambung)

Rabu, 23 Juni 2010

Urang Sintuk Jadi Tukang Insinyur (Bagian Kedua)


Urang Sintuk Jadi Tukang Insinyur
(Bagian Kedua)


Oleh : Ir. Masrizal Umar
(Kupersembahkan buat kedua Anakku tercinta Nanda Muhammad Raihan Audityo dan Nindy Puti Emgy Maisra)

Akhirnya penulis melanjutkan sekolah di SMA Negeri Lubuk Alung, penulis menginjak remaja dan karena sekolah jaraknya dari tempat tinggal penulis lebih kurang 12 KM sehingga kalau pergi sekolah dengan kendaraan umum membutuhkan waktu lebih kurang satu satu jam karena jarak dari rumah orang penulis ke Jalan Padang Pariaman lebih kurang tiga kilometer dan harus ditempuh dengan jalan kaki kemudian baru naik angkutan umum ke Pasar Lubuk Alung kemudian naik angkutan lagi ke SMAN Lubuk Alung sehingga setiap hari lebih kurang dua jam di perjalanan pulang pergi sekolah. Dengan mempertimbangkan jarak dan waktu tempuh dan demi fokus untuk sekolah akhirnya dengan persetujuan dari orang tua dan kakak-kakak dirantau , maka penulis putuskan untuk kost di Sungai Abang persisnya di Sungai Abang Dalam dimana hanya berjarak 400 meter dari sekolah dan bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 5 menit.

Masa Sekolah di SMA Negeri Lubuk Alung
Sewaktu sekolah di SMA Negeri Lubuk Alung waktu itu dalam satu angkatan yaitu Angkatan tahun masuk 1986 (Lulus Tahun 1989) ada 9 kelas atau lebih kurang 360 Siswa. Penulis masuk dalam ke I-1, dan kelas ini termasuk dalam kelas unggulan karena disini dikumpulkan siswa dengan nilai NEM (Nilai Evaluasi Murni) tertinggi dari seluruh siswa yang bisa diterima di sekolah tersebut, kebetulan untuk SMA Lubuk Alung penulis termasuk siswa dengan nilai NEM tertinggi sehingga masuk dalam kelas unggulan yaitu I-1, disini berkumpul dari para juara atau siswa terbaik dari masing-masing SMP di Kecamatan Lubuk Alung, Pakandangan, Sintuk , Kataping, dan Batang Anai. SMP yang terkenal waktu itu adalah tentu SMP Negeri Lubuk Alung, SMP Pakandangan dan tentu SMP Negeri Sintuk tempat penulis sekolah.
Akhirnya mulai masuk SMA dimulai dengan kegiatan Penataran P4 – 40 Jam, karena waktu itu zaman atau rezim orde baru maka masih diwajibkan untuk setiap siswa mengikuti penataran P4 selama satu minggu atau lebih kurang 40 Jam pelajaran. Waktu penataran karena kelas kami adalah kelas unggulan suasana persaingan untuk menjadi yang terbaik sudah dimulai karena ini menyangkut gengsi antar SMP asal dari masing-masing siswa. Penulis masih ingat teman sekelas yang dari satu SMP adalah Hasan Basri, sekarang jadi pengusaha tektil di Jakarta, Tasril Bartin MPd, sekarang sedang menyelesaikan S3 di IPB, Zeni Harnadi (Edi), sekarang jadi pengusaha di Padang. Dan memang rekan-rekan penulis ini adalah termasuk juara 1 dimasing-masing kelas sewaktu kami SMP. Sementara teman penulis dari SMP Lubuk Alung ada Muhammad Ridwan, sekarang Perwira Menengah di POMAL, Wildawilis Msc, sekarang sedang menyelesaikan S3 di UI, Armanto MPd, sekarang jadi wakil kepala sekolah di SMAN 2 Lubuk Alung, Christiana SPt, Sekarang pengusaha di Lubuk Alung, Rumzi.R, sekarang karyawan Swasta di Jakarta, Syahbana Syam, seorang PNS (Kabag) di BMKG di Padang, dan dari SMP Pakandangan diantaranya adalah Andarini Diharmi Msc, sekarang sedang menyelesaikan S3 di IPB, Adianovery SPd, seorang guru di Kuningan, Abu Hasan Sazuli sekarang perwira menengah di TNI-AD. Kalau dilihat karir dan profesi teman-teman penulis sekarang wajar dulu mereka memang termasuk siswa-siswi terbaik.
Selesai mengikuti penataran P4 selama satu minggu, maka dimulailah proses belajar dan disaat ini pada saat-saat awal nuansa persaingan antar sekolah mulai terasa dan cenderung ada kelompok atau group berdasarkan asal SMP misalnya dalam hal mengerjakan PR atau tugas sekolah lainnya. Penulis waktu mulai sekolah sudah mulai kost di Lubuk Alung dan pulang sekali seminggu untuk mengambil bekal ke kampung biasanya dalam bentuk beras, sambal atau lauk biasanya tahan sampai hari rabu, dan setelah hari rabu biasanya penulis dan teman satu kost harus masak sendiri. Alhamdulillah karena mulai SMP penulis sudah dididik mandiri oleh orang tua misalnya mencuci dan setrika baju sendiri, membantu ibu memasak walaupun hanya sekedar mengaduk gulai di dapur tetapi paling tidak proses memasak dan seluk beluknya penulis ketahui sehingga sewaktu berpisah dengan orang tua tidak merasa canggung. Waktu kelas satu penulis masuk sekolah dalam kelompok shift siang yaitu dari Jam 12.30 – 18.00. Sementara untuk pelajaran olah raga dilakukan shift pagi satu hari dalam satu minggu.
Waktu kelas satu SMA Penulis cukup mendapat dukungan dari Orang Tua dan Kakak-kakak penulis di Jakarta sehingga bisa mencukupi untuk biaya sekolah, sementara sapi dan ayam yang penulis pelihara mulai dari SD diserahkan pada orang lain untuk dipelihara dengan istilah bagi hasil dan inilah yang menjadi tabungan penulis untuk membantu waktu kuliah. Penulis juga bisa membeli buku pelajaran serta alat bantu sekolah yang relatif cukup mulai dari tas, buku, dan perlengkapan sekolah lainnya, sehingga karena penulis mempunyai tekad kuat untuk berhasil sekolah karena dorongan dan janji sama orang tua serta kakak-kakak untuk menjadi yang terbaik, Alhamdulillah pada semester pertama penulis berhasil mendapat rangking I di kelas I-1 dan otomatis menjadi juara angkatan 1996, dengan nilai rapor rata-rata 8, kenapa nilainya hanya 8 rata-rata karena waktu itu untuk masuk PTN masih ada jalur PMDK (Penyusuran Minat dan Kemampuan) dimana pada lulusan terbaik akan diusulkan masuk PTN terutama ITB, UI, IPB, UGM dan UNAND tanpa test ujian masuk waktu itu masih Sipenmaru, sehingga siswa yang diusulkan harus dengan grafik prestasi yang menanjak mulai dari semester 1 sampai semester 4, sehingga nilai diraport harus di-manage oleh sekolah sehingga seolah-olah grafiknya menanjak walaupun nilai ujian fisika dapat 9 tetap untuk kelas satu nilai tertinggi adalah 8.
Ada pengalaman menarik yang juga penulis ingin sampaikan yakni pada waktu semester kedua dimana pada saat itu lagi pada gandrung-nya tentang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dimana pesertanya umumnya adalah dari sekolah menengah atas dan waktu itu para guru atau pihak sekolah juga memotivasi para siswa untuk membuat karya ilmiah baik secara pribadi maupun secara kelompok. Akhirnya atas inisiatif dan usulan dari wali kelas kami kalau tidak salah waktu kelas satu itu adalah Bapak Drs. Akmal, akhir diputuskan untuk mengikuti lomba ini dengan kelompok dan akhirnya terbentuklah waktu itu kalau tidak salah ada tidak kelompok karya ilmiah dari kelas I-1, dan anehnya kelompok karya ilmiah berdasarkan asal SMP para siswa sehingga dalam hal ini bukan hanya persaingan kelompok atau pribadi untuk bisa terpilih mewakili SMAN Lubuk ALung untuk mengikuti seleksi tingkat Kabupaten Padang Pariaman, tetapi juga menyangkut gengsi atau kebanggaan SMP asal para siswa. Waktu itu penulis dengan rekan-rekan dari SMPN SIntuk diantaranya Hasan Basri dan Tasril Bartin serta Zeni Harnadi sepakat untuk memilih thema tentang Kompor Matahari, sementara rekan kami dari SMPN Lubuk Alung memilih Thema tentang Roket, dan dari SMPN negeri Pakandangan kalau tidak salah memilih thema tentang Biologi. Singkat cerita akhirnya kelompok penulis sibuk mencari sumber bacaan dan pembimbing dari kakak kelas kami di SMP yang waktu sudah kuliah di Akademi Teknik Industri Padang (ATIP), dan kebetulan beliau juga sedang meneliti tentang thema yang sama. Kalau dipikir sekarang sebetulnya hal itu bukan karya ilmiah yang orisinal dari kami tetapi karena gengsi kami tetap maju dengan thema yang sama, dan akhirnya karena memang hanya karena gengsi karya ilmiah kami tidak terpilih karena memang secara konsep tidak terlalu menarik dan tidak praktis, tetapi palaing tidak kami sedikit banyak sudah tahu bagaimana membangun sikap ingin tahu dan berani mencoba. Pada saat itu akhirnya yang terpilih untuk mewakili SMAN Lubuk Alung adalah dari kakak kelas kami dari kelas 2 Fisika, tetapi memang gagal juga di tingkat Kabupaten. Dari kegiatan ini memang semakin terasa ketatnya persaingan antar siswa dan sekolah asal untuk bisa menjadi yang terbaik dan hal inilah yang memotivasi untuk giat belajar dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk prestasi akademik.
Disamping pelajaran formal sekolah untuk bisa beprestasi lebih baik dan sesuai saran dari kakak bahwa penulis harus menguasai Bahasa Inggris dengan baik karena itulah adalah syarat mutlak untuk bisa berhasil kelak, dan dengan itu penulis memutuskan untuk ikut kursus Bahasa Inggris di Lubuk Alung dimana pada saat ada hanya ada satu lembaga kursus yang cukup baik dan punya reputasi baik yaitu: Central International English Course (CIEC) yang dipimpin oleh Alm Bapak Syafril Chap atau akrab dipanggil dengan Pak Chap. Mulailah penulis ikut kursus bahasa Inggris di lembaga tersebut di kelas pagi karena penulis waktu kelas satu di SMA masuk kelas atau shift siang, kalau tidak salah rekan satu kelas di SMA juga ada yang ikut di kelas yang sama kalau tidak salah : Risnaneri (Cik Uniang), Christiana, Armanto, Muhammad Ridwan, Rumzi dan Wildawilis. Di Lembaga kursus ini juga kami berusaha juga untuk menjadi yang terbaik walaupun tidak seheboh di Sekolah. Kursus disini penulis ikuti sampai kelas 2 SMA dan kalau secara tingkat sudah tingkat 3 (Advanced) atau kalau di CIEC kami sudah masuk pelajaran sampai Pattern 36. Bekal ini cukup lumayan memberikan bekal keberanian bagi penulis untuk memahami bahasa inggris lebih baik terutama conversation karena setiap 6 bulan kami ada kegiatan praktek ke Bukit Tinggi untuk berbicara dengan para turis yang native speaker dan mereka memang banyak di Bukit Tinggi yang menjadi tempat tujuan favorit bagi wisatawan mancanegara pada saat itu sampai sekarang.
Akhirnya penulis berhasil naik kelas dengan nilai terbaik dan juara kelas serta juara angkatan dan waktu kelas dua mulai ada penjurusan sesuai dengan pilihan dan prestasi akademik kalau tidak salah ada 3 penjurusan yaitu: Fisika, Biologi dan Sosial Budaya. Biasanya untuk jurusan Fisika adalah jurusan Favorit disamping Biologi, padahal kalau penulis pikir mata pelajaran antara Jurusan Fisika dan Biologi tidak jauh berbeda hanya perpedaan dalam jumlah jam pelajaran antara Biologi dan Fisika sementara yang lainnya relatif sama. Pada kelas Dua Fisika waktu penulis masuk kelas 2 Fisika -1 karena kalau tidak salah ada dua kelas untuk jurusan Fisika, sementara Biologi ada 3 dan SosBud ada 4 kelas. Pada kelas 2-Fisika bersaingan antar siswa semakin ketat kami berebut untuk menjadi yang terbaik dan merebut tiket untuk PMDK ke IPB atau ITB yang saat itu adalah pilihan favorit saat ini. Penulis masih ingat waktu naik ke kelas 2 ada satu orang siswa dari SMAN Negeri Lubuk Alung yang berhasil masuk ITB melalui PMDK dan itu adalah yang pertama yaitu Uni Upik Jamil dari Jurusan Biologi dan masuk di Jurusan Biologi ITB tahun 1987. Sehingga hal ini makin memotivasi kami adik-adik kelasnya dan kalau Kakak Kelas itu di ITB nilainya baik (kalau di ITB di tingkat pertama disebut : Tingkat Persiapan Bersama) maka untuk tahun berikutnya jatah siswa yang bisa masuk PMDK akan lebih banyak artinya kakak kelas yang berhasil masuk ITB menanggung beban untuk berhasil sebab kalau mereka gagal maka jatah untuk PMDK tahun berikutnya akan berkurang atau tidak ada sama sekali.
Waktu belajar di 2 Fisika, penulis juga rajin mengikuti kegiatan belajar kelompok untuk menambah kemampuan para siswa terutama untuk mata pelajaran Fisika, Matematika, Biologi dan Bahasa Inggris, dan khusus untuk bahasa inggris ada kelompok atau kegiatan esktrakurikuler yaitu Scrabble Club, yaitu pembaca juga tahu itu permainan bahasa inggris untuk melatih kemampuan dan penguasaan Vocabulary bahasa inggris dan ini cukup menyenangkan dan disamping bermain juga belajar dan setiap semester ada lombanya sehingga juga memotivasi kami untuk menjadi yang terbaik, dan waktu itu kakak kelas kami yang terkenal jagoan waktu adalah Syahreza, Wendy, Ronny Syam, Jhon Effendi dan Upik Rukmini. Dan memang waktu mereka lulus SMA rata-rata lulus dengan PMDK (Reza, Wendy, dan Ronny masuk di ITB, ,masing-masing masuk di Jurusan Fisika, Farmasi dan Geofisika dan Meteorologi), sementara Upik Rukmini dan Jhon diterima di Universitas Andalas kalau tidak salah jurusan Kimia dan Kedokteran,dan Upik Rukmini akhirnya juga masuk S2 di ITB dan kalau tidak salah sekarang menjadi Dosen di Universitas Sriwijaya, dan yang lain adalah Zeni Haryanto yang sekarang sudah menjadi Doktor dan mengajar Fisika di Universita Mulawarman, Kalimantan. Kalau menurut hemat penulis Angkatan 88 atau tahun masuk 1985 termasuk angkatan terbaik karena Angkatan itu yang berhasil meluluskan banyak lulusan yang masuk Universitas Favorit waktu itu. Kembali ke cerita penulis di semester pertama di kelas 2, Penulis berhasil menjadi juara pertama dan sekaligus juara Angkatan, sementara juara Umum waktu itu adalah Syahreza Syahrial yang sekarang bekerja sebagai Professional di ESIA (Bakrie Telcom). Bahkan penulis masih ingat waktu Ibunda Penulis mengambil Raport semester ketiga atau semester satu kelas dua, ada ibu-ibu yang bertanya anaknya dikasih makan apa sehingga pintar sekali (he he he narsis juga ya padahal makannya Cuma sayur kangkung dan ikan asin ha ha ha), tetapi Ibu penulis dengan menjawab makannya biasa saja apalagi kami hanya keluarga biasa di kampung.. (ada –ada aja pertanyaan ibu-ibu) tetapi paling tidak ada rasa kebanggaan bagi penulis waktu itu karena sudah membuat Ibu Penulis bangga pada waktu acara penyerahan raport tersebut. Pada waktu semester keempat persaingan antar siswa semakin ketat karena semester itu adalah semester terakhir yang menentukan siapa yang akan dipilih pihak sekolah untuk mengikuti PMDK dan mendapat privillage masuk perguruan tinggi tanpa test.
Pada saat semester keempat atau semester genap waktu kelas 2 ada cerita menarik yang ingin penulis ceritakan yang berkaitan dengan persaingan antar siswa untuk menjadi yang terbaik dan kadang sampai menghalalkan segala cara. Ceritanya adalah waktu itu penulis dalam mempersiapkan untuk ujian tengah semester atau ulangan mata pelajaran Fisika yang yang menjadi salah satu mata pelajaran favorit dan kebetulan nilai penulis termasuk yang tertinggi pada semertes ganjil sebelumnya. Waktu itu tiba-tiba setelah istirahat pertama dan kembali masuk kelas, penulis menemukan buku tulis atau buku catatan penulis untuk mata pelajaran Fisika sudah tidak ada dalam tas alias hilang. Maka penulis langsung menanyakan pada teman sebangku kalau tidak salah Tasril, dan menanyakan ikhwal buku penulis yang hilang tersebut tetapi Tasril mengaku tidak melihat dan tidak ada mengambil dan dia buktikan dengan mengeluarkan semua isi tasnya dan ternyata memang tidak ada. Kemudian penulis membuat pengumuman untuk menanyakan atau mencari apakah ada rekan-rekan satu kelas yang meminjam buku penulis tanpa sepengatuan penulis. Penulis memang mengakui buku tersebut sangat penting karena berisikan buku catatan atau ringkasan tentang materi pelajaran Fisika yang sangat penting penulis. Karena semua rekan satu kelas penulis tidak ada yang meminjam atau mengambil buku tersebut maka penulis mulai curiga ada rekan penulis yang memang sengaja mengambil buku tersebut untuk menjegal penulis dengan cara mengambil buku tersebut. Penulis menyadari bahwa kemungkinan itu sangat mungkin terjadi karena suasana persaingan yang ketat untuk mendapat tiket PMDK ke ITB atau IPB. Akhirnya setelah usai pelajaran waktu itu kalau tidak salah Pelajaran Bahasa Inggris, dan waktu istirahat kedua sebelum teman-teman keluar penulis menyampaikan ikhwal kehilangan buku catatan mata Pelajaran Fisika dan penulis menyatakan kalau memang ada yang sengaja mengambil buku itu maka penulis akan mendo’akan semoga orang tersebut mendapat nilai terbaik dan semoga dengan kesadaran bisa mengembalikan buku tersebut dan penulis akan ikhlas untuk mema’afkan. Singkat cerita besok harinya sewaktu pulang sekolah dan sewaktu perjalan pulang menuju tempat kost penulis dan dijalanan yang relatif sepi karena penulis lewat jalan tembus atau jalan tikus bukan jalan raya tiba-tiba ditempat yang relative sepi penulis didatangi oleh teman penulis yang satu kelas dan menyerahkan buku catatan penulis yang hilang kemarin dan sembari minta maaf dan dia mengaku khilaf serta mohon tidak diceritakan kepada teman satu kelas lainnya, dan akhirnya dengan kejadian itu karena penulis memang tidak ada rasa dendam memang tidak menceritakan pada teman-teman satu kelas sampai hari ini dan hikmahnya dengan kejadian tersebut penulis dengan rekan tersebut sampai saat ini masih akrab dan dia juga termasuk teman penulis yang relatif berhasil baik dari segi akademik maupun karir-nya.
Singkat cerita akhirnya penulis dapat menyelesaikan semester keempat atau semester genap kelas II Fisika dan naik kelas nilai nilai tebaik dan sekaligus menjadi Juara Umum di SMAN Lubuk ALung dan kembali penulis bisa mempersembahkan prestasi terbaik kepada orang tua dan kakak-kakak bahwa penulis bisa menjadi Juara Umum dan mendapat prioritas mengikuti PMDK ke ITB. Waktu penyerahan raport serta pengumuman sebagai Juara Umum di SMA penulis bisa melihat wajah bangga Ibunda tercinta karena walaupun kami orang kampung biasa berhasil menjadi Juara Umum di SMA terbaik di daerah kami waktu itu. Sekali lagi hal ini memacu penulis untuk selalu belajar dengan dengan giat sehingga nantinya bisa lulus dengan baik serta berhasil masuk Perguruan Tinggi terbaik.
Sakit Waktu Kelas Tiga SMA
Setelah liburan kenaikan kelas yang cukup panjang dan waktu itu penulis pergi liburan ke Jakarta ketempat Bapak, Kakak serta Saudara yang ada di Jakarta, dan penulis waktu itu masih ingat pergi ke Jakarta dengan mobil Transport Ekspress (Tranex) yang pada saat itu sangat terkenal sebagai Bus Trans Sumatera dari Pariaman ke Jakarta maupun Bandung, dan kebetulan pemiliknya adalah orang Lubuk Alung, dan singkat cerita waktu itu pergilah penulis ke Jakarta dan waktu di Jakarta menginap ditempat Bapak di daerah Prumpung dekat Pasar Jatinegara dan sering juga nginap ditempat kakak yang tinggal bersama Paman atau Mamak yaitu H. Razali di daerah Rawamangun dan kebetulan Kakak membantu Paman jualan pakaian jadi di Tanah Abang sekaligus ada usaha konveksi di rumah dan untuk waktu itu cukup sukses. Selama di Jakarta penulis biasa membantu Bapak Jualan Obat dipusat penjualan obat di Lantai 2 Pasar Jatinegara, karena dengan Bapak waktu itu relative tidak terlalu sibuk dan penulis waktu itu tidak terlalu mengerti masalah obat-obat akhirnya penulis lebih sering ikut membantu kakak penulis berjualan pakaian di Toko Sinar Purnama di Pasar Tanah Abang. Pada waktu liburan itu lebih kurang selama satu bulan di Jakarta penulis cukup dapat pelajaran yang banyak tentang bagaimana berdagang dan melayani pembeli atau istilah sekarang “customer service” serta proses supply chain dan produksi usaha konveksi yang dimiliki Paman Penulis waktu itu, mulai dari pembelian bahan pakaian termasuk bahan pendukung seperti puring dan kancing serta benang, kemudian proses prosuksi dari membuat pola, memotong, menjahit, memasang kancing dan label, dan kemudian proses menyetrika dan kemudian packaging dan siap untuk dipasarkan. Kalau tidak salah waktu itu mesin jahitnya lebih kurang ada 20 unit dan boleh dikatakan cukup besar saat itu.

Pada saat liburan di Jakarta, penulis juga diajak jalan-jalan oleh Paman atau kakak ketempat rekreasi di Jakarta waktu itu yang terkenal adalah Ancol dan Taman Mini, senang sekali rasanya waktu itu dan setelah liburan mau usai penulis disuruh kakak untuk mencari buku pelajaran untuk kelas III, dan waktu itu penulis diajak kakak membeli buku di daerah pasar senin yang sampai sekarangt masih ada dan memang disana buku-buka relative lengkap dan murah meriah dibanding dengan harga di toko buku resmi seperti Gramedia atau Gunung Agung. Setelah selesai menikmati liburan di Jakarta dan kembali ke sekolah di Lubuk Alung, penulis memulai sekolah dengan sangat semangat dan kebetulan pada saat itu penulis juga memutuskan pindah tempat kost ke daerah Lapangan Bola di Lubuk Alung bersama dengan teman kost dan sahabat karib dari Penulis waktu SMA yaitu Alfiza SPt, sekarang seorang pengusaha cukup sukses di Jakarta dan sedang menyelesaikan S2-nya di Jakarta. Pada saat mulai dikelas tiga penulis dengan semangat mulai mengikuti pelajaran di sekolah dengan harapan bisa lulus dengan baik dan kemudian bisa masuk perguruan tinggi negeri dengan tanpa test atau PMDK.
Setelah satu bulan mengikuti pelajaran di sekolah tiba-tiba ada pengumuman atau informasi yang mengatakan bahwa untuk tahun 1989 tidak ada lagi proses penerimaan mahasiswa di ITB melalui PMDK selain dari UMPTN (Pengganti Sipenmaru) pada saat itu, terus terang hal ini sangat memukul mental penulis karena memang belum ada sejarahnya alumni dari SMAN Lubuk Alung yang berhasil masuk ITB melalui jalur Sipenmaru atau UMPTN termasuk angkatan yang lulus 1988, karena waktu itu yang berhasil masuk ITB semua melalui jalur PMDK (Reza di Fisika, Ronny di GM, dan Wendy di Farmasi ITB). Keadaan ini terus terang membuat penulis shock berat dan mulai timbul rasa keraguan dan kekwatiran kalau orang kecewa anaknya yang Juara Umum tidak bisa masuk ITB atau paling tidak di Universitas Andalas dengan jurusan favorit seperti Kedokteran atau Fakultas Teknik. Singkat cerita hal ini mulai terasa pada bulan kedua di kelas tiga SMA, yaitu penulis mulai susah tidur atau insomania, nafsu makan berkurang, tidak konsentrasi ke kelas, bahwa penulis sudah mencoba juga minum “Cerebrovit” yang kata iklannya bisa menambah konsentrasi tetapi ternyata sebaliknya malah tambah parah. Singkat cerita mulai bulan ketiga penulis sudah takut masuk sekolah dan waktu itu langsung pulang kampung dengan kondisi sakit yang tidak jelas dan bahwa penulis masih ingat sampai kakak yang besar (Imuzar) khusus pulang untuk membawa penulis berobat ke dokter psikiater di Padang, dank arena jantung suka berdegub juga dibawa ke Dokter Ahli Jantung, dan ternyata memang tidak jelas penyakitnya apa dan hanya disarankan untuk istirahat dan tidak usah masuk sekolah.
Pada waktu itu penulis mulai malu dan takut ketemu teman dan hal ini berlangsung sampai lebih kurang 3 bulan dan berdasarkan saran dari keluarga maka penulis dibawa untuk berobat ke Jakarta, dan anehnya hanya satu minggu setelah sampai di Jakarta penyakit insomanianya langsung hilang padahal tidak ada diobati dan pada saat itu berarti penulis sudah tidak bisa melanjutkan sekolah sehingga harus istirahat selama satu tahun ajaran. Setelah 2 Bulan di Jakarta penulis mulai risih juga kegiatan apa yang harus dilakukan untuk mengisi kegiatan selama di Jakarta, akhirnya penulis dimasukkan kursus bahasa inggris di LIA Jalan Pramuka dan berdasarkan placement test penulis hanya lulus di Level Elementary dan sampai lebih kurang 4 bulan akhirnya waktu itu sudah mau akhir tahun ajaran dan akhirnya penulis mau melanjutkan sekolah di salah satu SMA di Jakarta yaitu SMAN 100 Jakarta, dan masuk ditahun 1989. (Bersambung)

Minggu, 20 Juni 2010

Urang Sintuk Jadi Tukang Insinyur






















Urang Sintuk Jadi Tukang Insinyur
(Bagian Pertama)


Oleh : Ir. Masrizal Umar
(Kupersembahkan buat kedua Anakku tercinta Nanda Muhammad Raihan Audityo dan Nindy Puti Emgy Maisra)

Setelah menonton Film Tanah Air Beta (http://indonesianmovies.net/tanah-air-beta.html) , besutan dari Ari Sihasale (Alenia Pictures : id.wikipedia.org/wiki/Ari_Sihasale) bersama kedua anak kami tercinta Nanda dan Puti serta tentu dengan Istriku tercinta Ria panggilan buat istriku tercinta Ada yang menarik dari Film Tanah Air Beta, film ini tidak bercerita atau mengangkat tema politik akibat referendum di Timor Timur 11 tahun lalu (30 Agustus 2009 : id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Timor_Leste) , tetapi mengangkat tema tentang: Cinta Tanah Air Indonesia Tercinta, dan ditambahkan pesan moral untuk:
· Hormat dan mencintai orang tua dan saudara
· Pentingnya persahabatan dan sikap menolong dengan sesama tanpa melihat suku dan agama,
· Pesan untuk selalu menjaga kebersihan khususnya selalu mencuci tangan dengan sehat,
· Didalam film ini juga disindir kebijakan pemerintah tentang subsisi BBM yang tidak memahami kondisi ril yang dihadapi masyarakat.
Penulis bukanlah seorang pengamat film tetapi itulah kesan-kesan atau pelajari yang bisa dipetik setelah menonton film ini dan ini juga dikuatkan oleh kesan yang disampaikan oleh kedua anak-anak kami yang masih berumur 5,5 dan 8 tahun, bahwa mereka menyadari harus sayang sama orang tua dan saudara serta harus menolong teman dan sesama, harus cinta tanah air Indonesia, dan harus rajin cuci tangan. Memang Film adalah salah satu media yang effektif untuk menyampaikan pesan moral kepada penonton-nya dalam hal ini Alenia Picture sudah berhasil melakukannya dengan baik, dan tentu terima kasih kepada salah satu produsen sabun terkenal serta perusahaan minimarket ternama yang menjadi sponsor utama untuk film ini. Sekali lagi penulis sangat menyarankan kita semua terutama anak-anak dan para orang tua untuk menonton bersama film ini karena sangat baik untuk mendidik anak tanpa kesan menggurui mereka. Setelah menonton film ini timbul keinginan dari penulis untuk menulis tulisan ini karena sewaktu menonton film ini penulis merasa dibawa kembali kemasa kecil dan berjuang serta berjibaku untuk bersekolah untuk bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, agama dan bangsa. Film ini menceritakan bagaimana susahnya anak-anak dipengungsian di Nusa Tenggara Timur khususnya Atambua dan sekitarnya untuk menempuh pendidikan serta bermain bersama serta berenang disungai.

Alhamdulillah sekarang berkat pendidikan yang telah diperjuangkan oleh penulis bisa seperrti sekarang yaitu sudah menjadi seorang “Tukang Insinyur” dari salah satu perguruan tinggi terbaik negeri ini yaitu ITB (http://www.itb.ac.id/) dan sudah tentu dengan perjuangan serta do’a dari kedua orang tua dari penulis yang sekarang sudah kembali menghadap Sang Khalik 3 tahun lalu tepatnya 24 Agustus 2007, Ibunda penulis Zaini Tanjung menhembuskan nafas terakhirnya tanggal dan disusul 3,5 minggu berikutnya tepatnya tanggal 18 September 2007 Bapanda tercinta H. Bagindo Umar Djuras juga menghadap Allah SWT, semoga Allah SWT Mengampuni dan mema’afkan segala kesalahan mereka dan diterima segala amal ibadahnya dan Insya Allah dimasukkan dalam golongan hambanya yang beriman, Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Penulis dilahir di Jorong Gati, Simpang Ampek Sintuk Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman (http://www.padangpariamankab.go.id/) Sumatera Barat (http://www.sumbarprov.go.id/ id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat), tepatnya tanggal 24 Juni 1971, dan orang tua memberi nama Masrizal dan kalau dikampung dipanggil Simaih atau Simas, tetapi kalau di rantau dipanggil Rizal. Ada yang menarik kenapa tanggal lahir penulis tidak sama dengan akta kelahiran yakni 24 Juli 1970, karena dulu waktu sekolah dasar penulis cepat masuk sekolah karena waktu itu tujuannya hanya ikut menemani kakak penulis nomor 4 namanya Muryid Jayadi atau dikampung dikenal dengan panggilan Ujang, waktu itu tahun 1977 penulis masih berumur kurang 6 tahun dan kakak berumur kurang dari 8 tahun karena memang tidak mau sekolah dan akhirnya agar mau sekolah harus penulis temani, jadi penulis cepat masuk sekolah dan anehnya waktu kelas satu penulis yang naik kelas sementara sang kakak malah tinggal kelas karena memang termasuk anak yang malas dan suka bolos sekolah. Singkat cerita sewaktu kelas enam SD untuk data atau keperluan Ijazah, guru wali kelas tentu minta data orang tua dan tentu tempat dan tanggal lahir, tetapi yang namanya dikampung waktu itu yang lahir dengan dukun beranak dan system administrasi kependudukan belum seperti sekarang mana ada akta kelahiran. Sewaktu penulis minta data ini sama Ibu (waktu itu Bapak sedang merantau ke Jakarta) serta kakak diberikanlah data nama orang tua serta tempat tanggal lahir, pertanyaanya dimana informasi tempat tanggal lahir penulis dicatatkan, rupanya Bapak penulis setiap kelahiran putra putrinya selalu menulis di salah satu lemari pakain dari kayu milik keluarga kami mulai dari anak pertama sampai yang paling kecil ada disitu. Dengan berbekal keterangan itu penulis memberikan data berikut kepada sang guru wali kelas, penulis masih ingat nama guru-nya yaitu Alm. Bapak Darnis yang terkenal sebagai guru matematika dan termasuk guru yang disiplin dan ditakuti sama murid-murid sebab kalau ada yang nakal atau bolos sekolah hukumannya adalah berdiri didepan kelas serta untuk laki-laki ada bonus ditarik rambut dekat telinga keatas dan itu sakit sekali. Maka dengan penuh percaya diri penulis menulis di kertas informasi yang diperlukan sebagai berikut:
Nama : Masrizal
Tempat Tanggal Lahir : Gati Sintuk, 24 Juni 1971
Ayah : H. Bagindo Umar Djuras
Ibu : Zaini Tanjung
Suku : Tanjung.
Setelah Bapak Darnis menerima dan membaca data yang penulis berikan, beliau memanggil ke depan kelas tentu penulis jadi agak takut disangka berbohong atau datanya tidak tepat, dan memang betul sang guru mempertanyakan keabsahan Tanggal lahir penulis kenapa tahunnya 1971 sementara teman-teman yang lainya rata-rata tahun 1979 atau 1970, dan hanya penulis yang kelahiran tahun 1971, walaupun penulis sudah jelaskan bahwa penulis cepat masuk sekolah sang guru tidak bergeming dan akhirnya beliau menulis, Gati Sintuk, 24 Juli 1970, dan ini berlaku sampai sekarang karena tertulis di Ijazah mulai dari SD sampai sarjana, dan penulis baru membuat Surat Keterangan Lahir sebagai pengganti Akta Kelahiran sewaktu SMA karena diperlukan untuk persyaratan masuk kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 1990. Ada juga yang menarik yang penulis mau sampaikan mengenai Tempat lahir yaitu Gati Sintuk dimana kalau seharusnya Padang Pariaman, karena seharusnya tempat lahir itu adalah nama Kota atau Kabupaten, tetapi karena penulis waktu itu berfikir tempat lahir itu adalah dimana dilahirkan maka ditulislah nama Jorong/Dusun tempat penulis dilahirkan yaitu Gati Sintuk, dan ternyata sang guru tidak mengoreksinya dan ditulis apa adanya sehingga kalau sekarang kalau penulis ditanya sama orang yang memerlukan Tempat Tanggal lahir selalu bertanya Gati Sintuk itu dimana.
Alhamdulillah penulis dilahirkan ditengah keluar yang kalau untuk ukuran dikampung ditengah keluarga yang peduli dengan pendidikan, karena untuk ukuran Nagari Sintuk, Paman atau Mamak dari penulis adalah salah seorang tokoh masyarakat yang bersekolah sampai SGA (Sekolah Guru Atas) di Sungai Penuh dan terakhir beliau merantau di Jakarta bargabung dengan TNI dan dengan Pangkat terakhir Kapten (Purn), beliau adalah H. Razali yang sekarang tinggal di Jakarta dan masih menjadi Tokoh masyarakat Sintuk di Jabodetabek. Penulis adalah anak kelima dari enam bersaudara, dan anak laki yang bungsu dari empat saudara laki-laki. Kakak yang tertua Imuzar, kedua Amrizali, ketiga Amboina, keempat Mursyid Jayadi dan adik penulis anak bungsu Masyitah Umar. Penulis dibesarkan di Gati Sintuk dan bersekolah di SDN No. 1 Sintuk yang terletak dekat Pasar Sintuk, Kenagarian Sintuk dan Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, (Dulu masih kecamatan Lubuk Alung) Kabupaten Padang Pariaman. Bapak adalah seorang pedagang kecil yang berusaha untuk membesarkan keenam anaknya dengan merantau sampai ke Ambon sehingga sampai kakak penulis yang nomor 3 bernama Amboina karena sewaktu beliau lahir Bapak sedang berada di Ambon. Waktu itu Bapak berjualan obat non resep dari kota-kota ke kota dan terakhir beliau menetap di Jakarta kalau tidak salah mulai tahun 1980 di Pasar Jatinegara, Jakarta. Bapak hanya sekali 3 bulan atau bahkan sekali 6 bulan pulang ke kampung, dan penulis besar sama kakak-kakak dengan kehidupan yang boleh dikatakan sederhana.

Penulis masih ingat waktu kecil bagaimana pergi ke sawah membantu orang tua menyacah benih padi untuk ditanam waktu itu penulis masih berumur sekitar 8 tahun atau kelas 2 Sekolah Dasar dan kalau kalau padi sudah mulai besar atau lebih kurang 1 bulan setelah ditanam penulis juga ikut menyiang atau membersihkan gulma atau rumput agar pagi tumbuh dengan baik sampai padi dipanen waktu dulu itu umur panen padi adalah 5 sampai 6 bulan dan proses pemanenan dilakukan dengan “ma’iriak” yaitu memisahkan padi dari tangkainya setelah dipotong dengan kaki dan penulis masih ingat sampai sekarang. Waktu penulis kecil penulis bersyukur orang tua disamping menyekolahkan di Sekolah Dasar, pada malam harinya harus juga mengaji di surau. Penulis masing ingat bagaimana kalau sore hari sebelum maghrib sudah harus pergi ke surau untuk mengaji bersama dengan teman sama besar, penulis masih ingat salah seorang teman karib dari penulis yaitu. Jausman, SPt, yang sekarang bekerja sebagai PNS di Kabupaten Padang Pariaman. Di surau kami diajarkan mengaji baca alquran, belajar ilmu fiqih dan sudah tentu belajar sholat dan sampai belajar ilmu tafsir alquran. Penulis merasa cukup beruntung dibesarkan ditengah masyarakat yang agamis sehingga penulis bisa mengenal Islam dari kecil.
Mulai dari penulis kecil, orang tua sudah mulai memberikan tanggung jawab kepada penulis untuk belajar mandiri dan tanggung jawab yaitu memelihara hewan ternak, dan mulai umur 9 tahun penulis harus bertanggung jawab untuk beberapa ekor ayam mulai dari memberi makan dipagi hari dan memastikan pada sore hari harus masuk ke kandangnya sebab kalau tidak akan dimakan musang. Dari memelihara ayam ini penulis mulai dididik untuk mandiri dan bertanggung jawab dan masih jelas teringat sekarang bagaimana ayam-ayam itu keluar dari kandangnya pagi hari dan waktu itu belum ada makanan khusus untuk ayam, waktu itu ayam-ayam itu hanya diberi dedak halus dan dicampur dengan air dan jika ada nasi basi maka dicampur dengan basi nasi. Dari beternak ayam ini penulis mulai belajar untuk bertanggung jawab dan disiplin sebab kalau sempat tidak disiplin maka ayam-ayam tersebut akan kelaparan atau kalau sore hari lupa dimasukkan ke kandang akan menjadi santapan bagi musang yang waktu itu masih menjadi musuh utama ayam waktu itu. Penulis menyadari waktu itu orang tua memberikan tugas itu bukan murni untuk memberikan pelajaran untuk mandiri tetapi memang secara ekonomi beternak ayam tersebut juga menjadi salah satu cara untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga kami sebab kalau hanya mengharapkan kiriman uang dari Bapak dari rantau pasti tidak cukup untuk kebutuhan kami sekeluarga di kampung. Pada waktu penulis berumur 10 tahun penulis mulai diberikan tanggung jawab yang lebih besar yaitu memelihara seekor sapi betina, yaitu mulai dari mencarikan makannya atau menyabit rumput-nya, memberikan minum pada siang hari dan tentu memasukan ke dalam kandang pada sore harinya. Hal ini harus penulis lakoni mulai dari pagi hari disamping memelihara ayam, dan sapi secara bersamaan.
Pagi – pagi sebelum pergi sekolah harus memberi makan ayam dan mengeluarkan sapi dari kandangnya, kemudian jam 7 berangkat sekolah sampai jam 12 siang, kemudian pulang sekolah selesai makan harus “ma’asak” sapi atau memindahkan sampai ke ladang rumput yang baru agar tidak kelaparan dan serta memberi minum agar tidak kehausan, sekita jam 03.00 sore penulis harus pergi mencari rumput (menyabit) untuk makanan sapi biasanya dilakukan bersama dengan teman sebaya lainnya yang juga harus menyabit rumput untuk sapinya. Jam 4 sore kembali dari menyabit rumput barulah penulis bermain dengan teman sebaya mulai dari bermain gundu (kelereng), gasing, layangan, tau main perang-perangan. Biasanya lagi musim layanan yaitu musim panen padi biasanya dari pulang sekolah sudah mulai membuat layangan bersama teman sampai layangan siap, dan sebelum bermain penulis tidak boleh lupa untuk mencarikan rumput untuk sapi (kalau dikampung disebut “jawi”) dan malam hari selesai bermain sudah tentu harus pergi “mangaji ke surau” sebab kalau tidak pasti Ibu penulis akan marah besar. Demikianlah rutinitas yang harus dijalani penulis sampai tamat sekolah menengah atas atau SMP.
Walaupun penulis diberi tanggung jawab seperti hal diatas tetapi prestasi penulis di sekolah juga tidak ketinggalan walaupun waktu SD bukan langganan juara kelas tetapi paling tidak selalu termasuk dalam rangking lima besar. Penulis dari kecil memang mempunyai motivasi yang sangat kuat untuk selalu berhasil dalam sekolah karena selalu dimotivasi oleh Bapak Tercinta serta kakak-kakak dan sudah tentu Mamak atau Paman dari penulis yang jika beliau pulang kampung selalu menasihati penulis untuk rajin sekolah karena beliau mengatakan harta mudah hilang atau habis tetapi kalau ilmu hanya berpisah nyawa dengan badan baru akan hilang. Nasehat itu sangat tertanam sama penulis sampai sekarang dan kembali ke hal diatas masalah tanggung jawab dalam memelihara hewan ternak tersebut secara tidak sadar sudah mengajarkan penulis untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab. Penulis merasakan betapa senang dan bahagianya sewaktu sapi peliharaaan penulis punya anak dan penulis masih ingat dari mulai umur 10 tahun sampai tamat SMP umur 15 tahun kalau tidak salah 3 kali sapi yang penulis pelihara punya anak sehingga anak yang terakhir menjadi milik atau sapi penulis dan sapi itulah membantu biaya sekolah waktu kuliah di Bandung nantinya.
Penulis juga ingin menceritakan bagaimana kegiatan sekolah dikampung yang serba terbatas mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), waktu bersekolah di Sekolah Dasar No.1 Sintuk sampai tamat seperti yang penulis sampaikan diatas tidak terlalu menonjol, tetapi sejak masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu di SMP Negeri Sintuk yang terletak di Pungguk Kasik atau lebih kurang berjarak sekitar 5 Kilometer dari rumah orang tua penulis dan tiap hari pergi kesekolah dengan sepeda, penulis masih ingat bahwa sepeda yang penulis miliki adalah hadiah dari orang tua karena tabungan penulis dari memelihara ayam dan penulis mulai merasakan manfaat dari memelihara ayam sejak kelas 3 SD. Sewaktu SMP waktu itu penulis masih ingat masuk di kelas I-4 di SMP dan wali kelasnya Ibu Elly Suarti dan waktu itu kepala sekolahnya adalah Bapak Nazaruddin, pada semester pertama penulis langsung menjadi juara I, dan sampai kelas tiga SMP penulis selalu langganana juara 1, bahkan kelas 3 SMP penulis berhasil menjadi Juara Umum sewaktu kelulusan SMP dan meraih Nilai Evaluasi Murni (NEM) tertinggi di SMPN Sintuk bahkan untuk Kabupaten Padang Pariaman meraih rangking ke 2 terbaik. Waktu itu adalah tahun dikedua diterapkanya ssstem NEM sewaktu kelulusan SMP sehingga sewaktu masuk SMA tidak perlu lagi mengikuti test tetapi cukup berdasarkan nilai NEM tersebut. Waktu lulus SMP waktu itu penulis bingung juga mau melanjutkan sekolah kemana? Apakah SMA atau kesekolah kejuruan seperti STM, SMEA, SNAKMA, atau SAKMA. Waktu itu penulis disarankan untuk sekolah di SAKMA di Kota Padang, karena berdasarkan informasi dari orang kampung kalau berhasil sekolah disana akan mudah cari kerja, akhirnya waktu disamping mendaftar ke SMA di Lubuk Alung, penulis juga mencoba peruntungan dengan mendaftar ke SAKMA di Jalan Juanda Padang dekat SMA 2 Padang. Penulis masih ingat dengan persiapan yang minim ikut mendaftar dan ikut test tertulis, tetapi sewaktu kakak penulis yang paling besar di Jakarta menelpon menanyakan penulis melanjutkan sekolah kemana dan penulis bilang ke SAKMA dan SMA sebagai cadangan jika tidak lulus SAKMA, tetapi waktu itu kakak (Note: waktu itu kakak yang paling besar Imuzar sudah merantau di Jakarta dan menjadi pedagang pakaian jadi di Pasar Tanah Abang bersama Paman H. Razali dan waktu itu beliaulah yang juga rutin membantu biaya sekolah di SMP dan setiap bulan rutin mengirim wesel untuk biaya sekolah dan untuk Ibunda tercinta) penulis tegas mengatakan bahwa penulis harus melanjutkan ke SMA supaya bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi sebab kalau di SAKMA hanya akan menjadi petugas labor dan sekolahnya juga harus ditempuh selama 4 tahun, sehingga berdasarkan masukan atau kalau boleh disebut “perintah” dari kakak maka penulis memutuskan untuk mengurungkan niat untuk tetap melanjutkan ke SAKMA di Padang, dan sampai sekarang penulis tidak tahu hasil test tertulis masuk SAKMA tersebut karena penulis hanya fokus untuk mendaftar ke SMA bahkan waktu itu kakak menyarankan kalau bisa masuk ke SMA 2 di Padang lebih baik dari SMA Lubuk Alung, waktu itu SMA 2 adalah salah satu sekolah SMA terfavorit di Kota Padang disamping SMA 1` dan SMA 3 Padang, tetapi karena waktu itu harus mengurus surat pindah rayon dan prosesnya berbelit karena harus sampai ke Dinas Pendididikan dan Kebudayaan di Pariaman sehingga akhirnya penulis mengurungkan niat untuk masuk ke SMA 2 Padang, padahal kalau mengacu pada nilai NEM waktu itu penulis pasti lulus. Akhirnya penulis memutuskan melanjutkan sekolah di SMA Negeri Lubuk Alung di Sungai Abang Lubuk Alung. Untuk ukuran Kabupaten Padang Pariaman SMA Lubuk Alung termasuk sekolah favorit waktu itu karena yang menjadi ukuran SMA bagus atau tidak adalah biasanya berapa banyak lulusannya yang bisa masuk ke ITB, IPB dan UI atau UGM, serta masuk AKABRI atau APDN, yang waktu itu merupakan impian dan kebanggaan bagi lulusan SMA pada waktu itu. Pada tahun 1996 itu SMA Lubuk Alung termasuk sekolah favorit karena ada lulusannya yang bisa kuliah di IPB dan diterima di AKABRI dan APDN. …(bersambung)

Rabu, 16 Juni 2010

Profil : Bacharuddin Jusuf Habibie

Bacharuddin Jusuf Habibie (lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 73 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil Pemilu 1999. Dengan menjabat selama 2 bulan dan 7 hari sebagai wakil presiden, dan 1 tahun dan 5 bulan sebagai presiden, Habibie merupakan Wakil Presiden dan juga Presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek.
Daftar isi[sembunyikan]
1 Keluarga dan pendidikan
2 Pekerjaan dan karier
3 Masa Kepresidenan
4 Masa Pasca Kepresidenan
5 Publikasi
5.1 Karya Habibie
5.2 Mengenai Habibie
6 Lihat pula
7 Referensi
8 Pranala luar
//
[sunting] Keluarga dan pendidikan
Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Alwi Abdul Jalil Habibie lahir pada tanggal 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta 10 November 1911. Ibunda R.A. Tuti Marini Puspowardojo adalah anak seorang spesialis mata di Yogya, dan ayahnya yang bernama Puspowardjojo bertugas sebagai penilik sekolah. B.J. Habibie adalah salah satu anak dari tujuh orang bersaudara.[1]
B.J. Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962, dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.[2]
Ia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-1965 ia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingineur pada 1960 dan gelar doktor ingineur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.
[sunting] Pekerjaan dan karier
Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, sehingga mencapai puncak karier sebagai seorang wakil presiden bidang teknologi. Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto.
Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998. Sebelum menjabat Presiden (21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999), B.J. Habibie adalah Wakil Presiden (14 Maret 1998 - 21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto.
Ia diangkat menjadi ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), pada masa jabatannya sebagai menteri.
[sunting] Masa Kepresidenan
Habibie mewarisi kondisi kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto akibat salah urus di masa orde baru, sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Segera setelah memperoleh kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet. Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.
Pada era pemerintahannya yang singkat ia berhasil memberikan landasan kokoh bagi Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah UU otonomi daerah. Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak disintergrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam dan akhirnya dituntaskan di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa adanya UU otonomi daerah bisa dipastikan Indonesia akan mengalami nasib sama seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.
Di bidang ekonomi, ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap dollar masih berkisar antara Rp 10.000 – Rp 15.000. Namun pada akhir pemerintahannya, terutama setelah pertanggungjawabannya ditolak MPR, nilai tukar rupiah meroket naik pada level Rp 6500 per dolar AS nilai yang tidak akan pernah dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya. Selain itu, ia juga memulai menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian.
Salah satu kesalahan yang dinilai pihak oposisi terbesar adalah setelah menjabat sebagai Presiden, B.J. Habibie memperbolehkan diadakannya referendum provinsi Timor Timur (sekarang Timor Leste), ia mengajukan hal yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak pendapat bagi warga Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih tetap menjadi bagian dari Indonesia. Pada masa kepresidenannya, Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi negara terpisah yang berdaulat pada tanggal 30 Agustus 1999. Lepasnya Timor Timur di satu sisi memang disesali oleh sebagian warga negara Indonesia, tapi disisi lain membersihkan nama Indonesia yang sering tercemar oleh tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur.
Kasus inilah yang mendorong pihak oposisi yang tidak puas dengan latar belakang Habibie semakin giat menjatuhkan Habibie. Upaya ini akhirnya berhasil dilakukan pada Sidang Umum 1999, ia memutuskan tidak mencalonkan diri lagi setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR.
Pandangan terhadap pemerintahan Habibie pada era awal reformasi cenderung bersifat negatif, tapi sejalan dengan perkembangan waktu banyak yang menilai positif pemerintahan Habibie. Salah pandangan positif itu dikemukan oleh L. Misbah Hidayat Dalam bukunya Reformasi Administrasi: Kajian Komparatif Pemerintahan Tiga Presiden.[3]
Visi, misi dan kepemimpinan presiden Habibie dalam menjalankan agenda reformasi memang tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidupnya. Setiap keputusan yang diambil didasarkan pada faktor-faktor yang bisa diukur. Maka tidak heran tiap kebijakan yang diambil kadangkala membuat orang terkaget-kaget dan tidak mengerti. Bahkan sebagian kalangan menganggap Habibie apolitis dan tidak berperasaan. Pola kepemimpinan Habibie seperti itu dapat dimaklumi mengingat latar belakang pendidikannya sebagai doktor di bidang konstruksi pesawat terbang. Berkaitan dengan semangat demokratisasi, Habibie telah melakukan perubahan dengan membangun pemerintahan yang transparan dan dialogis. Prinsip demokrasi juga diterapkan dalam kebijakan ekonomi yang disertai penegakan hukum dan ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam mengelola kegiatan kabinet sehari-haripun, Habibie melakukan perubahan besar. Ia meningkatkan koordinasi dan menghapus egosentisme sekotral antarmenteri. Selain itu sejumlah kreativitas mewarnai gaya kepemimpinan Habibie dalam menangani masalah bangsa.[4] Untuk mengatasi persoalan ekonomi, misalnya, ia mengangkat pengusaha menjadi utusan khusus. Dan pengusaha itu sendiri yang menanggung biayanya. Tugas tersebut sangat penting, karena salah satu kelemahan pemerintah adalah kurang menjelaskan keadaan Indonesia yang sesungguhnya pada masyarakat internasional. Sementara itu pers, khususnya pers asing, terkesan hanya mengekspos berita-berita negatif tentang Indonesia sehingga tidak seimbang dalam pemberitaan.
[sunting] Masa Pasca Kepresidenan
Setelah ia turun dari jabatannya sebagai presiden, ia lebih banyak tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Tetapi ketika era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, ia kembali aktif sebagai penasehat presiden untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikannya Habibie Center.
Dibandingkan dengan para mantan presiden sebelum era Susilo Bambang Yudhoyono, Habibie memperoleh nama harum di kalangan generasi muda pasca reformasi. Hal ini disebabkan bahwa ia mungkin adalah satu-satunya presiden dalam sejarah yang memegang negara yang mengalami disintergrasi parah, birokrasi yang bobrok dan militer yang mentalnya rendah tapi berhasil menyelamatkan negara tersebut dan memberi fondasi baru yang kokoh bagi penerusnya. Memang pada masa Habibie Indonesia harus melepas Timor Timur, tetapi ia berhasil mempertahankan wilayah eks Hindia Belanda tetap bersatu dalam Republik Indonesia.
[sunting] Publikasi

Habibie ketika disumpah menjadi presiden pada tanggal 21 Mei 1998.
[sunting] Karya Habibie
Proceedings of the International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia / B. J. Habibie; B. Laschka [Editors]. Indonesian Aeronautical and Astronautical Institute; Deutsche Gesellschaft für Luft- und Raumfahrt 1986
Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen unter beliebigen Belastungen und Vergleiche mit entsprechenden Versuchsergebnissen, Presentasi pada Simposium DGLR di Baden-Baden,11-13 Oktober 1971
Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe, Disertasi di RWTH Aachen, 1965
Sophisticated technologies : taking root in developing countries, International journal of technology management : IJTM. - Geneva-Aeroport : Inderscience Enterprises Ltd, 1990
Einführung in die finite Elementen Methode,Teil 1, Hamburger Flugzeugbau GmbH, 1968
Entwicklung eines Verfahrens zur Bestimmung des Rißfortschritts in Schalenstrukturen, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1970
Entwicklung eines Berechnungsverfahrens zur Bestimmung der Rißfortschrittsgeschwindigkeit an Schalenstrukturen aus A1-Legierungen und Titanium, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1969
Detik-detik Yang Menentukan - Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, 2006 (memoir mengenai peristiwa tahun 1998)
[sunting] Mengenai Habibie
Hosen, Nadirsyah, Indonesian political laws in Habibie Era : Between political struggle and law reform, ,Nordic journal of international law, ISSN 0029-151X, Bd. 72 (2003), 4, hal. 483-518
Rice, Robert Charles, Indonesian approaches to technology policy during the Soeharto era : Habibie, Sumitro and others, Indonesian economic development (1990), hal. 53-66
Makka, Makmur.A, The True Life of HABIBIE Cerita di Balik Kesuksesan, PUSTAKA IMAN, ISBN 978-979-3371-83-2, 2008
[sunting] Lihat pula
Daftar Presiden Indonesia
Daftar Wakil Presiden Indonesia
[sunting] Referensi
^ Makka, Makmur.A, The True Life of HABIBIE Cerita di Balik Kesuksesan, PUSTAKA IMAN, 2008
^ http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/biography/index.asp?presiden=habibie
^ Reformasi Administrasi: Kajian Komparatif Pemerintahan Tiga Presiden
^ Suryo B. Sulistyo.1999."Kebijakan ekonominya mengandalkan kekuatan pasar", dalam Badaruddin et.al. Kepemimpinan BJ. Habibie. Visi, Misi, dan Stategi, Jakarta: Yayasan Bina Profesi dan Wirausaha
[sunting] Pranala luar

Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan:
Bacharuddin Jusuf Habibie
Kepustakaan Presiden-presiden Republik Indonesia - Naskah pidato - B.J. Habibie
GVK - Common Union Catalogue - 2.1: Katalog karya tulis B.J. Habibie
GVK - Common Union Catalogue - 2.1: Katalog karya tulis mengenai B.J. Habibie

http://webcache.googleusercontent.com/search=cache:mfpYPxRF6y4J:id.wikipedia.org/wiki/Bacharuddin_Jusuf_Habibie+habibie&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id

Pendidikan: Prof. Saldi Isra - Anak Petani yang Professor.

PENDIDIKAN
Anak Petani yang Profesor
Minggu, 7 Februari 2010 05:12 WIB

Anak Petani yang Profesor

TERKAIT:
Pembenahan Sistem Hukum
Pusat Harus Bertanggung Jawab atas Pemekaran
Pakar Hukum Serukan Jangan Pilih Anggota Komisi III Lagi

KOMPAS.com - Bagi Saldi Isra, menjadi guru besar alias profesor hukum tata negara pada Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang, adalah kejutan. ”Dalam keluarga saya yang berlatar belakang petani, pencapaian akademis setinggi itu luar biasa, bahkan nyaris tidak bisa dipercaya,” katanya.
Pernyataan itu tak terlalu berlebihan. Ayah Saldi, Ismail (almarhum), memang seorang petani dengan sawah kecil. Ismail tak lulus SD. Ibu Saldi, Ratina (almarhumah), buta huruf.
Pasangan yang tinggal di Solok, Sumatera Barat, itu punya tujuh anak. Saldi anak keenam. Akibat kesulitan biaya, hanya Saldi dan salah satu kakaknya yang bisa kuliah sampai jadi sarjana. Itu pun harus dijalani dengan penuh perjuangan.
Saldi kuliah pada Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang, tahun 1990, setelah dua kali gagal masuk Jurusan Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada semester-semester awal, dia harus berjibaku kuliah sambil kerja.
Dia nyambi mengajar di Madrasah Aliyah di Paninggahan, Solok. Untuk itu, pada akhir pekan, dia rela harus bolak-balik melaju dengan bus umum dari Padang ke Solok sejauh 100 kilometer.
Saldi rajin mengikuti program belajar bersama. Katanya, selain meningkatkan pemahaman atas mata kuliah, dari situ dia kadang mendapat bantuan. ”Saya sering makan di rumah teman saat belajar bersama.”
Saking terbatasnya keuangan, Saldi hanya punya beberapa baju. Pakaian itu terus dipakai secara bergantian. ”Saya tak pernah pacaran. Jangankan apel sama pacar, untuk biaya kuliah saja berat.”
Untunglah, prestasi Saldi bagus. Pada tahun ketiga, dia pun mendapat beasiswa. Tahun 1995, dia lulus dengan predikat summa cum laude.
Pilihan jurusan hukum tata negara membuat Saldi merasa beruntung. Selain para ahli tata negara sangat terbatas, jurusan ini memberinya keleluasaan untuk mengembangkan pemikiran. Dia juga rajin menerbitkan buku dan menulis di media massa. Dari tulisan-tulisan itulah, dia muncul sebagai pemikir hukum tata negara yang menonjol di Tanah Air.
Saldi mengambil kuliah program master di University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, kemudian program doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, lulus tahun 2009. Tak lama setelah lulus, kini dia menjadi profesor hukum tata negara kedua di Universitas Andalas.
Apa yang dilakukannya dengan pencapaian akademis itu?
”Saya akan meluangkan lebih banyak waktu untuk mendidik mahasiswa. Saya ingin mendorong lahirnya generasi baru demi membangun masyarakat,” katanya. (IAM/ANA)

http://edukasi.kompas.com/read/2010/02/07/05123877/Anak.Petani.yang.Profesor

Anak Petani Masuk ITB dengan Biaya Pemda Kabupaten Solok Selatan

Diknas Solsel

Anak Petani Masuk ITB dengan Biaya Pemkab
Afriadi Nursal - Posmetro Padang

Siswa SMAN I Kabupaten Solok Selatan Syahrul Chaironi mendapatkan kesempatakan melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan dibiayai oleh pemerintah kabupaten Solok Selatan. Syahrul Chaironi merupakan anak petani dari Dusun Tangah Kecamatan Sangir Batang Hari Kabupaten Solok Selatan yang bisa kuliah ke ITB melalui seleksi Kemitraan Nusantara (KN) ITB tahun 2010. Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Selatan Sumardianto mengatakan, kerjasama penjaringan melalui KN ITB ini baru pertama kali didapatkan oleh Dinas Pendidikan Solok Selatan.Hal ini merupakan terobosan pemerintah kabupaten dalam mengejar perguruan tinggi negeri (PTN) terutama yang menjadi incaran setiap siswa untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi seperti ITB dan Universitas Indonesia. "Dalam penyeleksian ini tidak memperngaruhi integritas ITB. Dengan kerjasama ini kita menyambut gembira dan tahun ini merupakan tahun pertama kita laksanakan seleksi KN, dari 23 peserta satu orang dinyatakan lulus," ujarnya.Penyeleksian KN ITB ini dilaksanakan pada tanggal 22-23 Maret lalu dengan peserta 23 orang, siswa yang lulus KN ITB untuk biaya kuliah ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten sampai tamat. Dikatakannya, dengan dibiayainya oleh pemerintah Kabupaten tentunya Dinas Pendidikan akan tetap memantau untuk melihat prestasi si anak. Tentunya Kita berharap prestasinya terus meningkat sehingga Pemerintah Kabupaten bangga membiayai."Dengan lulusnya satu orang siswa Solok Selatan di ITB, ini akan mempengaruhi Iklim pendidikan di Solok Selatan,"katanya. Menurutnya, setelah tamat nantinya diharapkan Syahrul ini bisa menyumbangkan ilmu yang diperolehnya untuk membangun Solok Selatan. Syahrul telah diantarkan ke ITB oleh pihak Dinas Pendidikan pada Sabtu (29/05/2010) lalu.Selain dengan ITB, lanjutnya, Pihak Pemerintah Solok Selatan juga menjalin penjaringan melalui KN dengan UI. peserta di KN UI ini sebanyak 22 orang yang telah melakukan tes pada 15 Mei lalu. Hasil seleksi dengan UI akan diumumkan dalam Minggu depan.Sementara itu Syahrul Chaironi mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Solok Selatan atas bantuan yang didapatkannya sehingga ia bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yaitu ITB."Saya mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Pemerintah Kabupaten karena memberikan kesempatan kepada saya untuk kuliah di ITB dan dibiayai," Terang Anak keempat dari enam bersaudara pasangan Bulami (52) dan Dasmaini (45) ini. Di ITB Syahrul mengambil jurusan Teknik Pertambangan. (*)

http://www.padang-today.com/?today=news&id=16893